Efisiensi, Citilink Terapkan Buku Manual Pesawat Digital

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Citilink Indonesia. TEMPO/Abdi Purmono

    Pesawat Citilink Indonesia. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai berbujet rendah, Citilink Indonesia resmi mengadopsi penggunaan buku manual pesawat secara digital guna mewujudkan penerbangan sipil yang efisien dan ramah lingkungan.

    President & CEO PT Citilink Indonesia Albert Burhan mengatakan efisiensi yang didapatkan Citilink dari penggunaan buku manual pesawat secara digital (electronic flight bag/EFB class one) mencapai sekitar Rp2,6 miliar.

    “Dampak terhadap kinerja keuangan kita tentunya cukup positif. Meskipun, kalau dilihat dari ukurannya, memang tidak begitu besar. Akan tetapi, saya kira penghematan Rp2,6 miliar per tahun itu cukup lumayan,” katanya di Jakarta, Kamis (10 November 2016).

    Seperti diketahui, setiap pesawat memiliki kumpulan dokumen manual yang diperlukan untuk operasi penerbangan, seperti manual operasi, grafik penerbangan, informasi bandara, informasi rute, perhitungan kinerja dan lain sebagainya.

    Dari berbagai dokumen manual tersebut, informasi yang disampaikan masih menggunakan kertas. Jumlah halamannya pun tak sedikit, satu manual saja biasanya menggunakan kertas hingga 20.000 lembar.

    “Padahal, dokumen manual itu selalu diperbaharui, apakah itu datang dari regulator maupun pabrikan. Tentunya, ini bakal menghabiskan banyak waktu. Nah dengan elektronik, dari sebelumnya perlu 20 hari, kini hanya butuh 5 hari,” tutur Albert.

    Selain efisiensi, dia menilai secara tidak langsung EFB juga meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan. Bahkan, sambungnya, tingkat ketepatan waktu terbang Citilink juga bakal meningkat.

    Sepanjang kuartal III/2016, tingkat ketepatan waktu terbang (On Time Performance/OTP) Citilink mencapai sekitar 83%-84%. Dia optimistis kisaran OTP Citilink hingga akhir tahun ini bakal menembus 85%.

    Sementara itu, Direktur Operasional Citilink Indonesia Hadinoto Soedigno menuturkan EFB bakal mempermudah pekerjaan pilot ketika memandu pesawat, sehingga keselamatan dan kenyamanan penerbangan juga semakin baik.

    “Selain bicara efisiensi biaya, kemudahan mengakses informasi penerbangan yang diperlukan oleh awak penerbang itu juga sangat penting guna memastikan operasional penerbangan yang fleksibel,” ujarnya.

    Asal tahu saja, Citilink mengajukan penerapan EFB kepada Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan sejak satu tahun yang lalu, atau tepatnya pada 10 November 2015.

    Citilink sendiri memilih tabel Ipad yang telah mendapatkan persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA) dan European Aviation Safety Agency (EASA), serta bersertifikasi keamanan baterai sesuai regulasi transportasi PBB (UN38.3).

    Dalam implementasinya, Citilink menyewa sedikitnya 100 unit Ipad yang bakal digunakan di seluruh armada. Adapun, biaya yang dikeluarkan Citilink untuk penggunaan Ipad tersebut mencapai 30 juta/bulan.

    Sekadar informasi, Citilink berhasil meraup laba bersih sebesar US$9,96 juta atau setara dengan Rp129,5 miliar sepanjang kuartal III/2016, naik 125% dari periode yang sama tahun lalu US$4,42 juta.

    Meski begitu, apabila dihitung dari Januari hingga September 2016, Citilink justru mencatatkan rugi bersih sebanyak US$11,1 juta. Adapun, pada Januari-September 2015, Citilink mencatatkan laba bersih US$5,88 juta.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.