Jerman Khawatirkan Efek Donald Trump  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan orang berunjukrasa menentang Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat dari Partai Republik, di Chicago, Illinois, 10 November 2016. Sedikitnya tujuh kota di Amerika diguncang demo. REUTERS/Kamil Krzacznski

    Ratusan orang berunjukrasa menentang Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat dari Partai Republik, di Chicago, Illinois, 10 November 2016. Sedikitnya tujuh kota di Amerika diguncang demo. REUTERS/Kamil Krzacznski

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble dan para pemimpin partai konservatif lain pimpinan Kanselir Angela Merkel memperingatkan bahaya para pemimpin populis terhadap Eropa, kecuali para politikus arus utama bersikap terhadap kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat.

    Kemenangan Trump telah mengguncang banyak wakil rakyat Eropa menjelang pemilu tahun depan, termasuk di Prancis dan Jerman. Di dua negara itu, partai-partai sayap kanan diperkirakan meraih suara besar. "Populisme demogagis tidak hanya masalah di Amerika," kata Menteri Keuangan Wolfgang Schaeuble kepada harian Bild. "Di mana saja di Barat, debat politik dalam keadaan mengkhawatirkan."

    Kanselir Angela Merkel diperkirakan maju lagi untuk keempat kalinya pada pemilu September nanti, dan partainya kini 10 poin di depan lawan terdekat, Demokrat Sosial, yang saat ini menjadi mitra koalisi Merkel. Namun kebijakan Merkel membuka pintu untuk imigran telah membuat marah para pemilih.

    Partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) yang kerap menyampaikan retorika antiimigran telah mengguncang para pendukung partai-partai besar. Dibangun kurang dari empat tahun lalu, kini partai itu menguasai kursi pada hampir separuh dewan negara bagian di Jerman.

    Schaeuble menuturkan para politikus mesti menjadi lebih inklusif lagi. Kalimatnya selaras dengan Hans-Peter Friedrich dari mitra koalisi pemerintah yang mengaku mengkhawatirkan efek Trump di Jerman. Dia mengatakan rakyat merasa mereka tidak bisa mengendalikan segalanya, termasuk kebijakan bank sentral Eropa dan imigrasi. "Jika tidak ada jawaban yang diberikan partai-partai besar di negeri kita, mereka akan berbalik ke para politikus populis," ujar Friedrich kepada Bild, seperti dilansir Reuters.  

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.