Kenapa Konsumsi Susu Segar Terus Turun?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengangkut susu sapi segar dari peternak di Koperasi Peternak Susu Bandung Utara, Jawa Barat, Minggu (10/4). TEMPO/Imam Sukamto

    Petugas mengangkut susu sapi segar dari peternak di Koperasi Peternak Susu Bandung Utara, Jawa Barat, Minggu (10/4). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengatakan saat ini kesadaran untuk mengkonsumsi susu sapi segar menurun. Dia membandingkan hal ini dengan konsumsi susu kental manis dan susu bubuk.

    "Padahal ahli mengatakan susu kental manis 80 persen isinya hanya gula," kata Rochadi saat ditemui di Hotel Atlet Century Park, Jakarta Pusat, Selasa, 8 November 2016. 

    Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian menunjukkan, pada 2002-2014, rata-rata konsumsi susu murni adalah 0,05 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan rata-rata konsumsi susu kental manis pada 2002-2014 adalah 0,58 kilogram per kapita per tahun. 

    Lebih jauh, Rochadi menjelaskan, susu segar dalam negeri kalah bersaing dengan susu kental manis karena sejumlah orang memiliki lactose intolerance. Terlebih harga SKM juga relatif lebih terjangkau bagi masyarakat.

    Rochadi menambahkan, saat ini yang penting adalah bagaimana mengubah paradigma masyarakat agar mau mengkonsumsi susu segar. Caranya dengan meningkatkan sarana promosi susu segar agar kembali diminati masyarakat.

    Menurut dia, promosi susu segar sekarang harus digencarkan. Sebab, sekarang sudah banyak peralatan yang memadai. "Dulu kan kulkas tidak ada, sekarang ada. Sekarang kesadaran akan gizi juga ada."

    Saat ini, infrastruktur dan media sudah memungkinkan untuk promosi susu segar. Rochadi berharap pemerintah mau membantu mempromosikan susu segar dalam negeri agar bisa diterima masyarakat.

    Adapun Indonesia masih mengimpor susu asal Australia dan Selandia Baru untuk memenuhi kebutuhan susu Tanah Air. Dari total kebutuhan susu yang ada, yaitu sekitar 13 liter per kapita per tahun pada 2013, hanya 20 persen di antaranya dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?