Asosiasi Peternak Sapi Perah Keluhkan Harga Susu Segar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita minum susu, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi wanita minum susu, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) Agus Warsito mengatakan harga susu sapi segar di Indonesia masih lebih rendah dibanding negara tetangga. Harga tersebut dianggap tidak sebanding dengan ongkos produksinya.

    "Karena itu, investor tidak mau masuk. Kondisi ini negatif dan tak menguntungkan," ucap Agus saat ditemui di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 8 November 2016.

    Agus berujar, per ekor sapi membutuhkan Rp 14 ribu untuk biaya makan. Angka itu belum termasuk biaya pekerja dan lainnya. Sedangkan harga jual susu yang diterima di tingkat peternak adalah Rp 4.500 per liter.

    Harga itu, ujar Agus, lebih rendah dibanding harga jual susu sapi segar di negara lain. Di Cina, misalnya, harga jual susu sapi segar sebesar Rp 7.330 per liter. Sedangkan di Vietnam Rp 8.172 per liter.

    Rendahnya harga, menurut Agus, karena para peternak hanya bisa menjual susu sapi segar kepada industri pengolahan. Akibatnya, pelaku industri pengolahan menetapkan harga semaunya. Akhirnya, para peternak terpaksa mengikuti agar produksinya bisa terserap.

    Agus berharap ada regulasi dari pemerintah yang mewajibkan para pelaku industri pengolahan memakai hasil produksi susu segar dalam negeri. "Kami ingin dorong supaya iklim usahanya berubah," tuturnya.

    Saat ini, Indonesia masih mengimpor susu asal Australia dan Selandia Baru. Dari total kebutuhan susu yang ada, yaitu sekitar 13 liter per kapita per tahun pada 2013, 20 persen di antaranya dipenuhi produksi dalam negeri.

    Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf menuturkan, selama ini, peningkatan konsumsi susu tak diikuti oleh peningkatan produksi. Pada 2015, produksi susu nasional sebesar 805 ribu ton.

    Angka produksi susu sapi nasional pada 2015, menurut Rochadi, masih lebih rendah dibanding angka di beberapa tahun sebelumnya. "Tahun 2012 sebesar 960 ribu ton," ucap Rochadi saat ditemui pada kesempatan yang sama.

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.