OJK: Rasio NPL Bank Turun Jadi 3,1 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad saat ditemui dalam Open House di kediamannya, Jalan Daksa II nomor 15, Kebayoran Baru, Jakarta, 7 Juli 2016. TEMPO/Diko Oktara

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad saat ditemui dalam Open House di kediamannya, Jalan Daksa II nomor 15, Kebayoran Baru, Jakarta, 7 Juli 2016. TEMPO/Diko Oktara

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski belum signifikan, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank per September 2016 menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan kesembilan tersebut, rasio NPL industri bank sebesar 3,1%.

    Padahal, pada bulan sebelumnya, NPL industri perbankan tercatat kembali naik menjadi 3,22% dibandingkan Juli 2016 sebesar 3,18%.

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad mengatakan menurunnya NPL industri perbankan lebih besar dipengaruhi oleh perbaikan penyaluran kredit di sejumlah sektor, terutama ritel. Adapun sektor yang terkait komoditas masih relatif tidak berubah dengan kondisi tahun lalu.

    “Sekarang ini mudah-mudahan [NPL] sudah menyusut, risiko kredit, terutama karena NPL turun lagi. Per september menjadi 3,1%, pertumbuhan kredit sudah mulai menggeliat lagi,” ujarnya usai menjadi pembicara kunci dalam OJK Financial PR Forum di Jakarta, Senin (7 November 2016).

    Sejalan dengan menurunnya NPL, Muliaman menyebut penyaluran kredit bank sudah mulai menggeliat pada akhir tahun ini. Meski diprediksi hanya bertumbuh sekitar 6%-7% pada Desember nanti, dia meyakini penyaluran kredit bank pada akhir tahun akan semakin terakselerasi.

    Adapun, data perkembangan uang beredar yang dipublikasikan Bank Indonesia menyebutkan per September 2016 kredit yang disalurkan perbankan tercatat sebesar Rp4.243,9 triliun. Jumlah ini tumbuh 6,4% secara year on year (y-o-y), atau melambat dibandingkan dengan bulan kedelapan yang tumbuh 6,8% secara y-o-y.

    Melihat kondisi tersebut, Muliaman mengharapkan turunnya NPL bank dapat berlanjut hingga akhir tahun dan tahun depan.

    “Kita lihat dulu deh pertumbuhan ekonomi, kan tentu saja belum terlalu fantastis, tetapi tren positifnya sudah mulai kelihatan, NPL turun lagi, pertumbuhan kredit mulai naik lagi,” katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.