Analis: Harga Batu Bara Bakal Masih Menjanjikan hingga 2017

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dump Truck melakukan aktivitas penambangan batubara di Kintap, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, 11 Oktober 2012. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Dump Truck melakukan aktivitas penambangan batubara di Kintap, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, 11 Oktober 2012. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis dari PT Daewoo Securities Indonesia, Andy Wibowo Gunawan, memperkirakan batu bara masih akan menjadi komoditas yang menjanjikan hingga tahun depan. Menurut Andy, hal itu dipengaruhi oleh sistem perbankan Cina yang diperkirakan masih akan mengintervensi perusahaan yang menggunakan bahan bakar batu bara untuk menjaga likuiditas perbankan mereka.

    “Kami yakin harga batu bara dunia akan naik seiring dengan pemerintah Cina yang masih akan mengintervensi pemerintah dari sektor batu bara,” ujar Andy saat memberikan paparan di kantor Daewoo Securities, Equity Tower, Senin, 7 November 2016.

    Berdasarkan riset Daewoo Securities, pada 2015 harga batu bara anjlok hingga mencapai US$ 50 per ton, sehingga hal tersebut menyebabkan pertumbuhan kredit macet (NPL) di Cina pada saat itu naik cukup tinggi hampir mencapai 2,55 persen. Karena itu, pemerintah Cina mengambil kebijakan untuk mengintervensi harga batu bara dengan cara mengurangi produksi dan impor.

    Jadi, menurut Andy, agar sektor batu bara meminjam di bank lancar, maka harga batu bara harus tinggi. “Nah sekarang bagaimana pemerintah mengatur agar harganya lebih tinggi, yakni dengan mengintervensi,” ujarnya.

    Secara tidak langsung hal itu akan membuat negara pengekspor batu bara ikut mengurangi suplai ekspor mereka, sehingga harga komoditas itu ikut terkerek naik, termasuk Indonesia. “Harga jual batu bara kan acuannya harga global. Kalau Cina menurunkan produksinya, berarti kan harga global naik,” tutur Andy. “Indonesia secara tidak langsung terbantu Cina.”

    Andy menambahkan, hingga musim dingin nanti permintaan batu bara dari Cina akan tetap rendah. Karena itu harga batu bara diperkirakan hingga akhir tahun dapat mencapai US$ 110 per ton.

    Rendahnya permintaan batu bara itu karena satu dari tiga pembangkit listrik di Cina—termal, hidro, dan nuklir—yakni pembangkit listrik hidro, tidak dapat berproduksi. Adapun di Cina, pembangkit listrik tenaga hidro menempati posisi kedua setelah termal, disusul tenaga nuklir. “Pembangkit listrik hidro memberi kontribusi 10 persen dari total listrik di negara Cina,” ujar Andy.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.