Perekonomian Triwulan III Turun, Jokowi: Sudah Diprediksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Dewi Fajriani

    ANTARA/Dewi Fajriani

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengaku tidak kaget dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan III 2016 terhadap Triwulan III 2015 year on year sebesar 5,02 persen.

    Jokowi mengatakan hal itu sudah diprediksi. Malah, pencapaian itu lebih tinggi dibanding yang diperkirakan.

    "Perkiraan kami itu di bawah 5 persen. Alhamdulillah, ternyata bisa di atas 5 persen," ujar Presiden Joko Widodo saat dimintai tanggapan di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Senin, 7 November 2016.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekonomi Indonesia Triwulan III year on year memang tumbuh 5,02 persen. Namun, hal itu melambat apabila dibandingkan dengan Triwulan II 2016 yang tumbuh 5,19 persen.

    Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,20 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga non-profit melayani rumah tangga sebesar 6,65 persen. Diikuti komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga dan komponen pembentukan modal tetap bruto.

    Presiden Joko Widodo optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV nanti bisa lebih tinggi dibanding kuartal III. Sebab, di kuartal IV, penggunaan anggaran mulai besar-besaran di situ.

    "Ya, kami harap, dengan trigger dari realisasi pembayaran, realisasi penggunaan anggaran, pertumbuhan ekonomi bisa sedikit lebih baik," ujar Presiden Jokowi.

    Presiden Jokowi mengingatkan, prediksi kuartal IV itu masih bisa berubah. Sebab, kondisi ekonomi global juga harus dipantau. "Ekonomi dunia pada posisi yang terus-menerus turun. Itu yang harus dicatat," ujarnya mengakhiri.

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.