BPSPL Tanjungpinang Tutup 14 Titik Perdagangan Telur Penyu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang turis berenang disamping penyu saat berlibur di pulau San Cristobal di Galapagos Marine Reserve, Ekuador, 10 Oktober 2016. REUTERS/Nacho Doce

    Seorang turis berenang disamping penyu saat berlibur di pulau San Cristobal di Galapagos Marine Reserve, Ekuador, 10 Oktober 2016. REUTERS/Nacho Doce

    TEMPO.CO, Jakarta - Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Tanjungpinang menutup 14 titik perdagangan telur penyu di Provinsi Kepulauan Riau.

    Menurut Kepala BPSPL Tanjungpinang, Inche bahwa 14 titik perdagangan tersebut berada di wilayah kota lama Tanjungpinang dan Batam.

    "Di Kota Tanjungpinang ada 4 titik dan 10 titik ada di Kota Batam sudah tidak lagi beroperasi," kata Inche, di Bintan, Jumat, 4 November 2016.

    Ia mengatakan pascasidak ke lapangan beberapa pekan lalu, masih ditemukan aktivitas perdagangan telur penyu secara diam-diam, akan tetapi, ulah pelaku tersebut akan segera ditindaklanjuti BPSPL, bahkan surat peringatan segera dilayangkan.

    Tanpa merusak perekonomian pedagang tersebut, BPSPL sedang berupaya memberikan mata pencaharian alternatif pengganti tata niaga telur penyu.

    "Saat ini kami masih melakukan evaluasi, dan berencana memberikan mata pencaharian baru kepada penjual telur penyu tersebut, agar mereka tidak berjualan telur penyu kembali dengan alasan ekonomi," tuturnya.

    Mata pencaharian alternatif ini akan sediakan sesuai permintaan mereka dan tentu sesuai anggaran yang ada. Intinya supaya mereka tidak lagi berjualan telur penyu, tegasnya.

    Kepri merupakan salah satu wilayah penyumbang telur penyu di Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.