Aksi Demo dan Pemilu Amerika, IHSG Diperkirakan Melemah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • IHSG. TEMPO/Imam Sukamto

    IHSG. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sedikitnya insentif positif di tengah meningkatnya risiko pasar yang dipicu sejumlah isu, baik dari domestik dan eksternal terkait dengan pemilihan presiden di Amerika Serikat, indeks harga saham gabungan atau IHSG pada perdagangan akhir pekan ini diperkirakan akan cenderung koreksi.

    Menurut analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, pelaku pasar lebih banyak menunggu dan melihat (wait and see). "IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5.300 dan resisten di 5.350 cenderung koreksi," ujar David Sutyanto dalam pesan tertulisnya Jumat, 4 November 2016.                     

    Namun, menurut David, di tengah pelemahan tersebut pemodal bisa memanfaatkan koreksi untuk mengakumulasi sejumlah saham sektoral yang mencatatkan kinerja fundamental kuat, seperti di sektor telekomunikasi, konsumsi, perdagangan retail, dan tambang.                  

    Meningkatnya risiko pasar telah memicu tekanan jual pada perdagangan saham kemarin. IHSG akhirnya tutup koreksi 65,95 poin (1,4 persen) di 5.329,50. Ini merupakan posisi penutupan IHSG terendah sejak perdagangan 21 September lalu. Hampir seluruh saham sektoral tertekan.

    Baca lainnya: Revisi PP 44 Rampung, Menteri Rini: Holding Migas Siap

    David menambahkan, selain dipicu sentimen global dan kawasan Asia yang kurang kondusif, meningkatnya risiko pasar saham turut dipicu sejumlah isu domestik, terutama terkait dengan aksi demonstrasi besar massa Islam pada hari ini yang menuntut proses hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.  

    Dari eksternal, pasar kawasan terimbas sentimen negatif dari Wall Street perihal agenda pemilihan presiden di Amerika Serikat pada 8 November mendatang yang menempatkan kandidat Trump unggul tipis berdasarkan pooling Washington Post sebelumnya.

    Menjelang akhir tahun, pasar juga turut dikhawatirkan dengan agenda The Fed yang kemungkinan menaikkan tingkat bunganya seiring perkembangan positif perekonomian negara adidaya tersebut. "Namun koreksi ini dinilai bersifat sementara menyusul perkembangan ekonomi domestik yang cenderung membaik," ucap David.

    Simak juga: Indonesia Berpeluang Kuasai Produksi Motor Sport

    Wall Street tadi malam melanjutkan koreksinya untuk enam hari perdagangan berturut-turut. Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,16 persen dan 0,44 persen di 17.930,67 dan 2.088,66. Indeks Nasdaq koreksi 0,92 persen di 5.058,41.

    Koreksi terutama ditopang saham teknologi dan farmasi seiring fokus pasar pada pemilihan presiden pekan depan. Selain pelemahan indeks di Wall Street, harga minyak tadi malam kembali melanjutkan koreksi 1,5 persen di US$ 44,66 per barel.

    "Pasar melihat ada ketidakpastian atas kebijakan atas sektor teknologi dan kesehatan apabila Trump memenangkan pilpres," kata David.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.