Bank Dunia Setujui Pinjaman Logistik Indonesia US$ 400 Juta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Truk pengangkut peti kemas melintas di dekat container crane baru di Terminal Nilam, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, 30 September 2015. PT Pelindo III menambah dua unit cointainer crane  guna mempercepat waktu bongkar muat (Dweiling Time) di pelabuhan tersebut. ANTARA/Siswowidodo

    Truk pengangkut peti kemas melintas di dekat container crane baru di Terminal Nilam, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, 30 September 2015. PT Pelindo III menambah dua unit cointainer crane guna mempercepat waktu bongkar muat (Dweiling Time) di pelabuhan tersebut. ANTARA/Siswowidodo

    TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman kebijakan pembangunan (development policy loan) reformasi logistik Indonesia sebesar US$ 400 juta. Kebutuhan pinjaman ini digunakan untuk memperbaiki logistik dan memperlancar konektivitas, yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga mengurangi kemiskinan.

    Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan pinjaman itu diarahkan untuk mengatasi hambatan rantai pasokan, seperti dwelling time yang lama di pelabuhan dan prosedur izin perdagangan.

    “Perbaikan logistik bisa mengurangi biaya barang dan jasa, khususnya di wilayah terpencil dan tertinggal Indonesia,” kata Chaves dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 3 November 2016.

    Adapun biaya logistik Indonesia saat ini sebesar 25 persen penjualan manufaktur, masih tinggi dibandingkan dengan Thailand sebesar 15 persen dan Malaysia 13 persen. Chaves mencontohkan, pengiriman peti kemas dari Shanghai, Cina, ke Jakarta lebih murah dibandingkan biaya pengiriman barang dari Jakarta ke Padang, Sumatera Barat.

    Pinjaman juga akan mendukung Indonesia melakukan transisi yang diperlukan, yaitu beralih dari ekonomi yang bergantung kepada komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur yang berdaya saing tinggi.

    Menurut Chaves, logistik yang mahal dan tidak handal merupakan salah satu hambatan bagi daya saing Indonesia.

    “Teratasinya hambatan itu akan menambah produksi dan ekspor,” kata Chaves. Selain itu, dengan berakhirnya masa kejayaan komoditas juga akan memperbaiki daya saing dalam produksi nonkomoditas.

    Tiga komponen utama dalam pendanaan ini adalah peningkatan kinerja pelabuhan, peningkatan daya saing layanan logistik, serta memperkuat fasilitas perdagangan.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perkiraan Ukuran Tubuh Megalodon, Pemangsa Zaman Purba

    Setelah berbagai macam penelitian yang dilakukan para ahli, akhirnya mereka bisa menyimpulkan perkiraan ukuran tubuh Megalodon, sang hiu purba.