Kementan Bantu Alat Pertanian Pangkas Biaya Produksi Padi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menanam padi dengan ditemani Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di areal persawahan Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, 6 Maret 2015. Menanam padi tersebut, Jokowi gunakan alat hasil rakitan warga lokal. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Presiden Joko Widodo menanam padi dengan ditemani Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di areal persawahan Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, 6 Maret 2015. Menanam padi tersebut, Jokowi gunakan alat hasil rakitan warga lokal. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian menyebut akan terus meningkatkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk petani domestik demi menurunkan biaya pokok produksi padi, sehingga harga beras juga dapat lebih terjangkau.

    Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring mengungkapkan saat ini biaya produksi padi oleh petani di Indonesia memang cenderung lebih tinggi dari negara-negara lain di kawasan. Selain itu, industri penggilingan Indonesia pun belum efisien.

    “Makanya kita mendorong pemberian alsintan sebanyak mungkin sehingga biaya produksinya kurang lebih bisa sama. Kalau luas usaha tani sebenarnya cenderung mengalami peningkatan, kita bergerak ke arah sana,” terang Hasil di Jakarta, Rabu (2 November 2016).

    Hasil mengatakan jika dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand, biaya aspek tenaga kerja di Indonesia pun cenderung lebih tinggi. Apalagi, luas sawah petani domestik hanya 0,25-1 ha, jauh di bawah Vietnam yang 4-5 ha per petani atau Thailand 6-8 ha per petani.

    Sekjen Persatuan Perusahaan Penggilingan Indonesia (Perpadi) Burhanudin mengungkapkan tingginya biaya produksi beras di Indonesia sejak dari level budidaya hingga penggilingan membuat harga beras Indonesia tidak berdaya saing.

    Akibatnya, meski kelak mencapai surplus beras sebanyak 10 juta ton seperti yang ditargetkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Indonesia akan sulit mengekspor kelebihan produksi tersebut karena harganya di pasar global bisa lebih tinggi dari beras asal Vietnam dan Thailand.

    “Pasti sulit untuk diekspor. Kalau beras organik bisa karena mereka di sana tidak produksi itu. Iklim produksi dan usaha beras di Indonesia memang mengondisikan harga beras kita lebih tinggi. Kebijakan kita tidak kondusif [untuk dapat mengekspor beras],” ungkap Burhanudin.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.