Perburuan Gajah Rugikan Sektor Pariwisata Afrika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pangeran Harry memeluk gajah yang berada dalam kondisi dibius di Taman Nasional Kruger dalam kunjungannya tahun lalu. Kensington Palace

    Pangeran Harry memeluk gajah yang berada dalam kondisi dibius di Taman Nasional Kruger dalam kunjungannya tahun lalu. Kensington Palace

    TEMPO.CO, Jakarta - Perburuan gajah untuk diambil gadingnya menyebabkan kerugian sekitar 25 juta dolar AS (setara Rp326,6 miliar) per tahun bagi sektor pariwisata Afrika, menurut penelitian yang dirilis pada Selasa (01 Noember 2016).

    Meski lebih kecil dibandingkan harga gading gajah di pasar gelap China, jumlah tersebut setara 20 persen pendapatan dari wisata berburu di 14 negara, yang menjadi habitat bagi 50 persen gajah Afrika, menurut penelitian tersebut.

    "Kami menemukan kerugian ekonomi yang semestinya dapat menjadi keuntungan yang diperoleh dari gajah bagi pariwisata negara-negara Afrika sangat besar, dan jumlahnya melampaui biaya yang diperlukan untuk menghentikan penurunan populasi gajah di Afrika timur, selatan, dan barat,” menurut laporan para peneliti di jurnal Nature Communications, seperti dilansir AFP.

    Mereka menyimpulkan bahwa konservasi gajah "merupakan keputusan bijak bagi investasi di negara-negara kawasan savana Afrika."

    Nilai perdagangan gading gajah ditaksir mencapai hampir 600 juta dolar AS (setara Rp7,84 triliun) per tahun yang mengisyaratkan "sulitnya pendanaan konservasi gajah," menurut pernyataan para peneliti.

    Populasi gajah Afrika merosot sekitar 30 persen hanya dalam kurun waktu dari 2007 hingga 2014.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.