Tarif Listrik dan Harga Elpiji Jadi Penyebab Inflasi Oktober

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

    Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COJakarta - Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan penyumbang tertinggi inflasi pada Oktober lalu adalah adanya kenaikan harga pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. BPS mencatat, pada Oktober, kelompok pengeluaran tersebut mengalami inflasi 0,56 persen. 

    "Yang memberikan andil terbesar adalah kenaikan tarif listrik 0,06 persen dan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, dalam hal ini elpiji 3 kilogram, sebesar 0,02 persen. Selain itu, upah tukang, tarif kontrak rumah, dan tarif sewa rumah," ujar Suhariyanto di kantornya, Selasa, 1 November 2016. 

    Baca: Pembangkit Listrik, 12 Proyek Mangkrak Siap Dilanjutkan

    Suhariyanto mengatakan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau juga mengalami inflasi, yakni 0,24 persen. Komoditas yang menyumbang inflasi pada kelompok ini, menurut Suhariyanto, adalah rokok kretek, rokok kretek filter, dan rokok putih, yang masing-masing mengalami inflasi 0,01 persen. 

    Berdasarkan data BPS, penyumbang inflasi pada Oktober juga berasal dari kelompok kesehatan serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,29 persen. "Adapun kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi 0,1 persen."

    Beberapa kelompok pengeluaran, menurut Suhariyanto, mengalami deflasi. Kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,21 persen. "Komoditas yang mengalami penurunan harga adalah bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, kacang panjang, dan sebagainya," katanya. 

    Berita lain: Harga Minyak Turun di Tengah Keraguan Kesepakatan OPEC  

    Sementara itu, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. "Penyumbang deflasi adalah penurunan tarif pulsa," ujar Suhariyanto. Sedangkan kelompok pengeluaran yang juga mengalami deflasi adalah kelompok sandang, yakni 0,31 persen. 

    Suhariyanto menilai pola inflasi yang terjadi pada Oktober lalu merupakan hal yang tidak biasa. "Karena penyumbang inflasi tertinggi adalah kelompok administered price atau harga yang diatur pemerintah, yakni 0,57 persen. Ini terjadi karena kenaikan harga elpiji 3 kilogram, tarif listrik, dan harga rokok," tuturnya. 

    Berdasarkan data BPS, kelompok bergejolak mengalami deflasi. Menurut Suhariyanto, deflasi kelompok bergejolak mencapai 0,26 persen. "Hal itu menunjukkan secara umum harga pangan terkendali. Walaupun terjadi deflasi, yang perlu mendapat perhatian adalah cabai merah," tuturnya. 

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.