Harga Minyak Turun di Tengah Keraguan Kesepakatan OPEC  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Lee Jae-Won

    REUTERS/Lee Jae-Won

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada Senin atau Selasa pagi WIB, 1 November 2016, di tengah meningkatnya keraguan apakah kesepakatan pemotongan produksi dapat dilaksanakan di antara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

    Para pejabat OPEC menyetujui sebuah dokumen yang menguraikan strategi jangka panjang mereka pada Senin, tanda bahwa anggota-anggotanya mencapai konsensus pengelolaan produksi.

    Namun, sebaliknya, para analis mengatakan OPEC sejauh ini baru mencapai sedikit kemajuan, yang memicu kekhawatiran pasar bahwa kelompok itu kemungkinan gagal menerapkan pengurangan produksi yang direncanakan karena beberapa negara, termasuk Iran dan Irak, menentang langkah tersebut.

    Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi mengatakan pekan lalu bahwa negaranya, produsen terbesar kedua dalam OPEC, ingin dibebaskan dari pengurangan produksi karena membutuhkan lebih banyak uang untuk memerangi kelompok militan ISIS.

    OPEC pada pekan lalu telah sepakat untuk mengurangi produksi minyak menjadi 32,5 juta barel per hari dari tingkat saat ini di 33,24 juta barel per hari untuk meningkatkan pasar.

    Kelompok kartel minyak ini akan menyepakati tingkat konkret produksi masing-masing negara anggotanya pada pertemuan resmi berikutnya di Wina bulan ini.

    Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember kehilangan 1,84 dolar AS menjadi menetap di 46,86 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

    Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 1,41 dolar AS menjadi ditutup pada 48,30 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, demikian dilaporkan Xinhua.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.