Garuda Andalkan Pendapatan dari Penerbangan Umrah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung memadati pameran Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2016 di Jakarta Convention Center, Jakarta, 29 April 2016. Pameran ini diikuti oleh 48 travel agent, 12 hotel dan resort, 4 national tourism organization, dan 23 theme park. Tempo/Tony Hartawan

    Pengunjung memadati pameran Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2016 di Jakarta Convention Center, Jakarta, 29 April 2016. Pameran ini diikuti oleh 48 travel agent, 12 hotel dan resort, 4 national tourism organization, dan 23 theme park. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengandalkan penerbangan umrah yang trennya selalu meningkat untuk memperbaiki pendapatan Perseroan pada triwulan IV tahun 2016.

    Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo seusai konferensi pers di Jakarta, Senin, 31 Oktober 2016, mengatakan penerbangan tambahan untuk umrah hingga Desember tengah diajukan karena banyaknya permintaan. 

    "Umrah mulai meningkat pada November dan Desember ini, bahkan banyak extra flight (penerbangan tambahan). Beberapa slot kami mintakan banyak sekali," tuturnya.

    Dia menyebutkan, dalam sehari, frekuensi penerbangan umrah sebanyak empat kali dengan pembagian tiga kali rute Jakarta-Jeddah dan satu kali Jakarta-Madinah. Di Indonesia sendiri, menurut Arif, terdapat enam titik utama pemberangkatan, yaitu Jakarta, Balikpapan, Solo, Makassar, Medan, dan Surabaya.

    Jumlah penumpang yang diangkut dalam sehari mencapai 1.200 orang atau lebih-kurang 36 ribu orang selama satu bulan dengan menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 777.

    Pada triwulan III tahun 2016, Garuda membukukan laba US$ 19,6 juta atau setara dengan Rp 254,8 miliar. Namun laba tersebut masih lebih rendah ketimbang perolehan laba pada periode yang sama pada 2015 sebesar US$ 22,1 juta atau turun 11,6 persen.

    Arif mengatakan penurunan laba karena pada triwulan II 2016 Perseroan harus mengeluarkan biaya besar yang masih berdampak pada triwulan III. Alokasi pengeluaran tersebut adalah untuk pengembalian enam unit pesawat setelah masa sewa selesai (redelivery) dan investasi di rute-rute internasional.

    Dia menyebutkan, pengembalian empat pesawat berbadan sedang (narrow body) dan dua pesawat berbadan besar (wide body) tersebut memakan biaya US$ 52,2 juta. Sementara itu, menurut Arif, pemisahan rute London, Heathrow dan Schipol, Amsterdam pada tahap awal tidak mudah karena tingkat keterisian (load factor) hanya 30-40 persen.

    "Tiga bulan pertama sangat berat, tapi sekarang sudah 70 persen. Artinya, waktu kami melakukan deployment (pengoperasian) di kuartal II, itu pilihan yang tepat," ucap Arif. 

    Arif optimistis kinerja perusahaan akan membaik ke depannya dengan melakukan berbagai strategi melalui program Sky Beyond dan Return Maximization. "Kapasitas kami sudah siap terpasang. Ketika pasar rebound (kembali naik), kami sudah terpasang terlebih dahulu," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?