Krakatau Steel Catat Kenaikan Penjualan 22 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan proses penyambungan plat pada produk Cold Rolled Coil di PT. Krakatau Steel (persero), Cilegon, Banten, FOTO ANTARA/Rosa Panggabean

    Petugas melakukan proses penyambungan plat pada produk Cold Rolled Coil di PT. Krakatau Steel (persero), Cilegon, Banten, FOTO ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan volume penjualan perseroan 22,25 persen year on year (yoy) di sembilan bulan pertama 2016 ini. Pertumbuhan penjualan ini akhirnya memperbaiki kinerja keuangan perusahaan pelat merah tersebut yang merugi pada periode yang sama tahun lalu.

    "Tahun ini naik menjadi 1,68 juta ton dibandingkan periode sebelumnya yang hanya 1,37 juta ton," ujar Tambok P. Setyawati, Direktur Keuangan PT Krakatau Steel, dalam Konferensi Pers Kinerja Perseroan Triwulan III, di kantor pusat PT Krakatau Steel, Jakarta, Senin, 31 Oktober 2016. "Ini pengaruh dari program percepatan pembangunan infrastruktur yang tengah dipacu pemerintah.”

    Tambok mengatakan pertumbuhan 22 persen tersebut disumbangkan penjualan hot rolled coil (HRC) atau baja lembaran panas 891 ribu ton, cold rolled coil (CRC) atau baja lembaran dingin 409 ribu ton, dan steel pipe atau pipa baja 60,3 ribu ton. Sebelumnya, pada sembilan bulan pertama 2015, PT Krakatau Steel membukukan rugi kotor US$ 20,89 juta dan kerugian operasional US$ 118,34 juta.

    Direktur Utama PT Krakatau Steel Sukandar mengklaim kerugian pada tahun lalu merupakan imbas dari penurunan harga baja global. "Harga baja jatuh hingga 75 persen, dari US$ 1.090 per ton pada Juli 2015 menjadi hanya US$ 265,5 per ton pada Desember 2015," katanya. Namun harga baja saat ini sudah naik kembali hingga ke level US$ 400,5 per ton.

    Dengan adanya perbaikan kinerja keuangan, menurut Sukandar, perseroan bisa semakin meningkatkan ekspansi bisnisnya. Saat ini, PT Krakatau Steel dipastikan terlibat dalam pembangunan elevated toll atau jalan tol layang Jakarta-Cikampek sepanjang 36 kilometer. "Kita suplai 250 ribu ton baja per tahun, penggunaan baja ini jauh lebih baik daripada beton," ucapnya.

    Ke depan, menurut Sukandar, pertumbuhan laba perusahaan akan didongkrak dengan penurunan biaya produksi. "Kami optimistis, kalau harga gas jadi turun dan fasilitas blast furnace atau pabrik besi dengan tenaga batu bara selesai dibangun, maka efisiensi cost of production akan semakin besar.”

    FAJAR PEBRIANTO | RR ARIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.