KRL untuk MRT Akan Diproduksi di Jepang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menurunkan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 29 Juli 2016. Pada 2016 ini, Anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut akan mendatangkan 60 unit KRL dari Jepang. Pada pengiriman pertama ini, 30 dari 60 unit KRL yang akan dibeli KCJ tiba. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menurunkan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 29 Juli 2016. Pada 2016 ini, Anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut akan mendatangkan 60 unit KRL dari Jepang. Pada pengiriman pertama ini, 30 dari 60 unit KRL yang akan dibeli KCJ tiba. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gerbong kereta rel listrik (KRL) yang akan digunakan untuk proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta rencananya akan diproduksi di Jepang.

    Meski diproduksi di pabrik yang sama, Tsuge memaparkan ada tiga perbedaan signifikan antara Shinkansen dan rolling stock yang dipesan MRT Jakarta.

    Pertama, material yang digunakan. Dia menuturkan kereta pada umumnya, termasuk MRT Jakarta, menggunakan bahan stainless steel.

    "Untuk gerbong pesanan MRT Jakarta, kami akan menggunakan bahan stainless steel. Benefitnya usia pemakaian bisa mencapai 40 tahun. Perawatan juga tak sulit, tetapi performa tetap tinggi. Kelebihannya usia pakai bisa sangat panjang," katanya.

    Berbeda dengan kereta MRT Jakarta, Nippon Sharyo justru menggunakan materian aluminium sebagai pelapis body kereta Shinkansen. Menurutnya, material ini dipilih lantaran massa aluminium lebih ringan dibandingkan stainless steel.

    "Kecepatan Shinkansen itu kan di atas kereta pada umumnya. Makanya, pemilihan bahan juga sangat berpengaruh. Sebagai kompensasi, usia pemakaian Shinkansen cenderung lebih pendek, yakni hanya 15-20 tahun saja," ungkapnya.

    Kedua, kecepatan kereta. Berdasarkan data PT MRT Jakarta, kecepatan maksimum rolling stock yang akan melalui rute Lebak Bulus-Bunderan HI tersebut mencapai 100 km/h di jalur layang dan 80 km/h di jalur bawah tanah. Adapun, rata-rata kecepatan pada saat operasi 30-40 km/jam.

    Sebaliknya, Tsuge mengungkapnya kecepatan kereta Shinkansen yang melaju di daratan Jepang berkisar 240 km/jam.

    "Kecepatan maksimal bisa mencapai 320 km/jam. Dengan laju secepat itu, kami pastikan gerbong kereta tetap stabil sehingga penumpang yang duduk di dalamnya merasa aman dan nyaman," jelas Tsuge.

    Perbedaan terakhir adalah jumlah gerbong untuk setiap rangkaian kereta. Rolling stock per set yang dipesan MRT Jakarta berjumlah enam gerbong. Dengan demikian, satu rangkaian kereta dapat menampung hingga 1850 orang, baik yang duduk maupun berdiri.

    Sementara itu, satu rangkaian Shinkansen terdiri dari 16 gerbong dengan kapasitas 1.300 tempat duduk.

    "Tidak ada penumpang yang berdiri di dalam Shinkansen, semua harus duduk sesuai dengan nomer kursi yang ada di tiket," katanya.

    Perusahaan yang berkesempatan membuat rolling stock untuk mega proyek tersebut adalah Nippon Sharyo, LTD.

    General Manager (GM) Rolling Stock Division Nippon Sharyo Mikio Tsuge mengatakan saat ini pihaknya tengah fokus mendesain gerbong contoh atau mock up untuk MRT Jakarta.

    "Desainnya sudah kami terima dan saat ini sedang memproses pembuatan mock up. Jika sudah selesai dan disetujui, baru kami akan memproduksi rolling stock secara massal," ungkapnya kepada peserta MRT Jakarta Fellowship Program 2016 di Pabrik Toyokawa, Aichi, Nagoya, pekan lalu.

    Dia menuturkan Nippon Sharyo merupakan salah satu produsen gerbong kereta terbesar di Jepang‎. Perusahaan yang berdiri sejak 1896 tersebut telah memproduksi berbagai jenis gerbong kereta, mulai dari kereta rel listrik, kereta bawah tanah (subway), hingga kereta super cepat yang menjadi ikon Jepang yaitu Shinkansen.

    Berikut data lengkap spesifikasi rolling stock MRT Jakarta:

    - Jumlah rangkaian: 16 set (14 set beroperasi + 2 set untuk cadangan)
    - Jumlah gerbong per set: 6 gerbong
    - Headway: 5 menit
    - Waktu tempuh : ± 30 menit
    - Kecepatan maksimum : 100 km/h di jalur layang & 80 km/h di jalur bawah tanah
    - Rata-rata kecepatan pada saat operasi: 30-40 km/jam
    7. Dimensi gerbong: Lebar 2,950 mm - Tinggi 3,655 mm
    - Pintu darurat terdapat di masing-masing bagian ujung dari rangkaian kereta
    - Kapasitas maksimum penumpang, per rangkaian kereta = 1,850 orang. Target penumpang = 173,400 orang/hari

    BISNIS


  • KRL
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.