BI: Obligasi Korporasi Melonjak di Akhir Tahun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. ANTARA FOTO

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan obligasi korporasi meningkat Rp 80 triliun sampai Agustus-September 2016. Ia memperkirakan angka ini bisa meningkat di akhir tahun ini. "Sampai akhir tahun, bisa sampai Rp 120 triliun," ucap Agus saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin, 24 Oktober 2016.

    Agus berujar, ada pertumbuhan instrumen pasar modal, seperti obligasi korporasi, saat posisi kredit menurun. "Jadi instrumennya berbeda. Kredit turun, instrumen pasar modal meningkat. Ini menunjukkan dinamika Indonesia," tuturnya.

    Selama ini, menurut Agus, ada sorotan pertumbuhan kredit yang rendah, dan ini terjadi berturut-turut sejak Juli hingga September 2016. Bahkan pertumbuhan kredit secara year-to-date mungkin hanya 2,2 persen saat ini.

    Pertumbuhan kredit yang rendah ini dalam banyak hal disebabkan oleh ekonomi dunia yang juga sedang melemah. Perekonomian dunia yang sedang melemah ini menyebabkan perbankan mulai berhati-hati karena non-performing loan (NPL) yang meningkat.

    Adapun Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad mengatakan, per Agustus 2016, NPL perbankan berada pada angka 3,22 persen untuk gross dan 1,4 persen untuk nett. Pertumbuhan ini dianggap oleh Muliaman masih relatif stabil. "Kami minta bank-bank mengantisipasi dan memitigasi risiko-risiko yang muncul karena NPL ini."

    Dengan begitu, Muliaman melihat angka 3,22 persen itu didukung oleh cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dimiliki bank secara umum, sehingga membentuk nett NPL sebesar 1,4 persen. "Ini masih dalam normal, di bawah 5 persen seperti yang sering kami jadikan benchmark untuk jadi perhatian kami."

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).