KSSK Cermati Risiko Stabilitas Keuangan hingga Akhir 2016  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat memberikan keterangan terkait hasil Tax Amnesty tahap I di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana mendata jumlah PNS yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat memberikan keterangan terkait hasil Tax Amnesty tahap I di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana mendata jumlah PNS yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati berbagai risiko yang dapat mempengaruhi kondisi stabilitas sistem keuangan hingga akhir tahun 2016. Risiko itu datang dari kondisi domestik dan kondisi perekonomian global.

    "Risiko dari domestik antara lain kondisi intermediasi lembaga jasa keuangan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin, 24 Oktober 2016.

    Sri Mulyani berujar, kondisi intermediasi lembaga jasa keuangan dipengaruhi tiga hal. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang mengalami tekanan dari pelemahan perdagangan internasional dan harga komoditas yang rendah.

    Kedua, ucap Sri Mulyani, adalah penurunan eksposur utang korporasi. Ketiga, kehati-hatian dari industri perbankan untuk mengantisipasi tekanan terhadap non-performing loan mereka.

    Sedangkan faktor risiko dari eksternal, menurut Sri Mulyani, terutama terkait dengan rencana kenaikan Fed Funds Rate pada 2016. Hal tersebut ditambah lagi dengan dampak Brexit yang menyebabkan tekanan pada pasar modal dan pasar surat berharga negara.

    Faktor risiko eksternal kedua, tutur Sri Mulyani, adalah pertumbuhan ekonomi global pada 2016, yang diperkirakan akan lebih rendah daripada proyeksi sebelumnya. Dengan demikian, harga komoditas masih berpotensi mengalami tekanan seiring perkembangan ekonomi global yang diperkirakan masih melambat.

    Lalu faktor risiko eksternal yang ketiga adalah kondisi perkembangan ekonomi Cina. Sri Mulyani mengatakan KSSK akan terus-menerus memantau dan mengantisipasi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

    Lebih lanjut, Sri Mulyani menjelaskan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan bersepakat akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan market confidence, agar stabilitas sistem keuangan dapat terjaga dan dapat berkontribusi positif. "Kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, dan tentu dalam pemulihan investasi," ujarnya.

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.