Menteri Susi Dorong Pengolahan Ikan di Kawasan Timur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyampaikan sambutan pada pembukaan Simposium Fishcrime kedua di Yogyakarta, 10 Oktober 2016. Penyelenggaraan Simposium Fishcrime kali ini diikuti 250 peserta dari 46 negara. TEMPO/Pius Erlangga

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyampaikan sambutan pada pembukaan Simposium Fishcrime kedua di Yogyakarta, 10 Oktober 2016. Penyelenggaraan Simposium Fishcrime kali ini diikuti 250 peserta dari 46 negara. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan akan membangun industri pengolahan ikan di daerah Timur Indonesia untuk memudahkan nelayan menjual hasil tangkapannya. Pasalnya, selama ini terjadi perbedaan yang signifikan dalam penentuan harga jual ikan di sejumlah daerah.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, harga ikan yang dipasarkan di Kawasan Timur Indonesia sangat murah dibandingkan daerah lain. Sebab, di kawasan timur tidak ada tempat pendingin untuk ikan karena tidak ada listrik dan juga sulitnya transportasi.

    Susi mencontohkan, harga ikan tenggiri olahan di Kawasan Timur Indonesia hanya Rp 3 ribu per ekor. Sementara harga ikan tersebut bila dijual di Jawa bisa mencapai Rp 30-40 ribu per ekor. "Dan masih banyak orang yang mau beli," ujarnya dalam acara Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK Reformasi Bidang Kelautan di Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2016.

    Oleh karena itu, kata Susi, tugas pemerintah selanjutnya adalah melakukan pemerataan jumlah industri pengolahan. Kemudian adanya transportasi yang memudahkan ikan keluar dari wilayah penangkapan ke pasar.  "Makanya yang dibutuhkan saat ini adalah membuka gerbang langsung," ucapnya. Karena apabila tidak, biaya transportasi wilayah dari Barat ke Timur akan terus mahal.

    Nantinya melalui Instruksi Presiden (Inpres) yang meminta Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN agar membuka jalan langsung ke daerah atau negara yang akan dituju, misalnya dari Merauke langsung ke Australia. Pasalnya, biaya  kontainer dari Australia ke Jakarta lebih murah dibandingkan dari Kupang ke Jakarta.

    Dengan rute seperti itu diharapkan akan mempermudah jalur ekspor ikan. Tidak akan lagi ada misal harga ayam di Saumlaki Rp 100 ribu per ekor karena distribusinya panjang. "Mahal karena jalan-jalan dulu baru sampai ke Saumlaki," kata dia.

    Lebih jauh, Susi mengatakan industri perikanan yang ada di Merauke, Wanam, dan Ambon dikabarkan tidak beroperasi sama sekali tidak benar. "Adanya industri pencurian ikan, bukan pengolahan ikan di sana," ujarnya.

    Susi menyebutkan yang terjadi selama ini pengusaha membangun pabrik agar kapal asing milik pengusaha tersebut bisa masuk untuk menangkap ikan. "Makanya aneh kalau dibilang industri tutup di sana. Padahal gak ada industri di sana," kata dia.

    ODELIA SINAGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.