RI-Australia Tingkatkan Kerja Sama Industri Peternakan Sapi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat sapi impor  Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/10). ANTARA/Wahyu Putro A

    Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat sapi impor Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/10). ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Canberra - Indonesia dan Australia sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang pengembangan industri daging merah dan peternakan sapi. Sebanyak 300 sapi dikirim ke lokasi mitra pertama sebagai bagian dari Program Pembiakan Sapi Komersial Indonesia-Australia.

    Sebanyak 300 ekor sapi Australia telah tiba di lokasi mitra pertama di Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari Program Pembiakan Sapi Komersial Indonesia–Australia (IACCB), program unggulan Kemitraan Keamanan Pangan Indonesia–Australia di Sektor Daging Merah dan Peternakan Sapi.

    Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertanian dan Sumber Daya Air Australia, Barnaby Joyce, serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, mengatakan prakarsa ini akan membantu pengembangan industri peternakan sapi Indonesia, meningkatkan peluang investasi dan mendongkrak perdagangan kedua bangsa.

    Baca juga: Aneh, Legislator dan Lulusan S2-S3 Masuk Daftar Warga Miskin

    “Kita bekerja sama untuk mengembangkan industri daging merah dan peternakan sapi Australia-Indonesia yang lebih bersaing, efisien dan berkelanjutan sebagai bagian dari rantai pasokan komersial yang bersaing secara global,” kata Menteri Joyce lewat rilis Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang diterima Tempo, Kamis, 20 Oktober 2016.

    Menurut Menteri Joyce, seiring dengan permintaan akan daging sapi di Indonesia yang terus meningkat, proyek ini merupakan satu lagi contoh komitmen Australia bekerja sama dengan industri Indonesia untuk meningkatkan produktivitas melalui alih keterampilan dan kepakaran dalam pembiakan sapi.

    “Hal ini akan menghasilkan peluang investasi yang kuat dan membuka pasar baru untuk sapi indukan Australia,” ujarnya.

    Lembong menambahkan program ini akan menjadi percontohan untuk aneka model pembiakan sapi skala komersial dengan mitra swasta dan secara komersial difokuskan pada kelompok-kelompok koperasi peternak kecil untuk melakukan penilaian secara ekonomis model-model pembiakan ternak skala lebih besar yang laik dan berkelanjutan.

    “Kemitraan ini akan membantu pengembangan industri pertanian berkelanjutan yang tengah berlangsung di Indonesia dan makin memperkukuh hubungan perdagangan dan investasi kita yang sudah kuat ini dengan Australia,” tutur Lembong.

    Simak: Dua Tahun Jokowi-JK, Indef: Ketergantungan Impor Meningkat

    Selain sapi, tim program akan memberikan dukungan luas tentang pengembangan padang penggembalaan, manajemen bisnis, peternakan sapi, dan sistem pengawasan serta evaluasi untuk memperoleh dan memajukan model pembiakan yang laik secara komersial untuk Indonesia.

    Kerja sama dalam sektor daging merah dan peternakan sapi merupakan salah satu hasil awal perundingan perdagangan bilateral untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia Australia, IA-CEPA.

    Kemitraan Keamanan Pangan Indonesia–Australia di Sektor Daging Merah dan Peternakan Sapi merupakan bagian dari paket bantuan Pemerintah Australia sebesar A$60 juta untuk memupuk kemitraan yang lebih dalam antara industri daging di Australia dan Indonesia.

    IACCB merupakan prakarsa unggulan Kemitraan tersebut; proyek senilai A$9 juta ini akan berlangsung pada 2016–18 yang bertujuan untuk mendukung komersialisasi pembiakan sapi di Indonesia. IACCB dimulai pada Februari 2016.

    Perdagangan pertanian bilateral dengan Indonesia senilai hampir Aus$ 4 niliar pada 2015. Konsumsi total daging sapi di Indonesia meningkat sekitar 4 persen setiap tahunnya.

    NATALIA SANTI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.