Sentimen Suku Bunga The Fed, IHSG Rawan Koreksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat ditutup naik tipis sebesar 0,02 poin menyusul harga minyak mentah dunia yang terkoreksi. TEMPO/Tony Hartawan

    Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat ditutup naik tipis sebesar 0,02 poin menyusul harga minyak mentah dunia yang terkoreksi. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Spekulasi kenaikan  suku bunga Bank Sentral Amerika(The Fed) yang semakin menguat menjelang akhir tahun akan mempengaruhi psikologis pasar hingga akhir tahun ini. Di sisi lain perkembangan ekonomi global masih dibayangi perlambatan sehingga menaikkan risiko pasar terutama di emerging market.

    Pernyataan tentang bahaya tingkat bunga rendah dipertahankan dalam jangka panjang disampaikan Wakil Gubernur The Fed, Stanley Fischer. The Fed telah mendekati targetnya yakni perekonomian dalam kondisi full employment dan inflasi mencapai dua persen.

    "Pernyataan Stanley Fischer ini dinilai The Fed akan segera menaikkan tingkat bunganya di akhir tahun ini," ucap analis ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto dalam pesan tertulisnya Selasa, 18 Oktober 2016.

    Menurut David, kondisi tersebut akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah. Selain itu, pasar juga akan digerakkan dengan sejumlah rilis laba kuartal III sejumlah emiten.

    David memperkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif dalam rentang konsolidasi. "IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi dengan support di 5380 dan resisten di 5430 namun rawan koreksi," ucap David Sutyanto.

    IHSG kemarin bergerak fluktuatif dalam rentang konsolidasi namun berhasil tutup di teritori positif, menguat 10,41 poin (0,19 persen) di 5410,30. Penguatan IHSG tertahan, menyusul data perdagangan Indonesia pada September yang dirilis BPS. Pada perdagangan kemarin pemodal asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 483,94 miliar.

    Ekspor Indonesia periode tersebut turun 1,84 persen dibandingkan Agustus yang mencapai US$ 12,51 miliar.  Begitu pula nilai impor yang turun 8,78 persen dibandingkan Agustus yang mencapai US$ 11,30 miliar. Surplus neraca perdagangan Indonesia September 2016 meningkat mencapai US$ 1,21 miliar dibandingkan bulan sebelumnya US$ 363 juta.

    Penguatan IHSG kemarin lebih ditopang kenaikan saham-saham berbasiskan komoditas seperti tambang batubara dan perkebunan seiring kenaikan harga komoditasnya. Pasar juga mengantisipasi rilis laba kuartal III sejumlah emiten sektoral.

    Sementara tadi malam bursa global kembali ditutup di teritori negatif. Indeks saham Eurostoxx di Uni Eropa tutup koreksi 0,54 persen di 3008,72. Di Wall Street indeks DJIA dan S&P masing-masing tutup koreksi 0,29 persen dan 0,30 persen di 18086,40 dan 2126,50.

    Pasar Wall Street bergerak fluktuatif dipicu sejumlah sentimen seperti harga minyak mentah yang turun tadi malam 0,56 persen di US$ 50,07 per barel, respon atas rilis laba kuartal III sejumlah emiten, dan komentar pejabat bank sentral The Fed.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.