BPS: September, Upah Buruh Tani Naik 0,24 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi petani/sawah/ masa tanam padi. ANTARA/Abriawan Abhe

    Ilustrasi petani/sawah/ masa tanam padi. ANTARA/Abriawan Abhe

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah harian buruh tani nasional pada September 2016 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Namun upah riil tercatat menurun.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rata-rata upah harian buruh tani nasional pada September 2016 sebesar Rp 48.235. Jumlahnya meningkat 0,24 persen dibandingkan Agustus 2016 yang sebesar Rp 48.120.

    Sementara upah riil menurun 0,08 persen. "Nilai riil naik karena inflasi di pedesaan masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin, 17 Oktober 2016.

    Suhariyanto menambahkan perubahan upah riil menggambarkan perubahan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh. Semakin tinggi upah riil maka semakin tinggi daya beli upah buruh. Begitu pula sebaliknya.

    Upah buruh pertanian yang naik juga sejalan dengan upah buruh informal perkotaan. Suhariyanto mengatakan upah buruh bangunan pada September 2016 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Upah buruh bangunan naik 0,16 persen dari Rp 82.348 per hari menjadi Rp 82.480 per hari. Upah riil buruh bangunan tercatat menurun 0,06 persen yaitu dari Rp 65.810 menjadi Rp 65.768.

    Kenaikan lainnya dialami buruh potong rambut wanita. Upah buruh potong rambut wanita naik sebesar 0,25 persen dari Rp 24.781 menjadi Rp 24.843 per kepala. Upah riil buruh potong rambut wanita juga meningkat sebesar 0,03 persen dari Rp 19.804 menjadi Rp 19.089 per kepala.

    Upah buruh informal perkotaan lainnya yang naik ialah upah pembantu rumah tangga. Kenaikan upahnya sebesar 0,14 persen dari Rp 362.402 menjadi Rp 362.910. Sementara upah riil pembantu rumah tangga menurun sebesar 0,08 persen dari Rp 289.621 menjadi Rp 289.379.

    VINDRY FLORENTIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).