BPS: September 2016, Rupiah Menguat Atas Empat Mata Uang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. Total volume transaksi mencapai lebih dari 172 T rupiah. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. Total volume transaksi mencapai lebih dari 172 T rupiah. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar eceran rupiah menguat terhadap empat mata uang selama minggu keempat September 2016. Keempat mata uang tersebut ialah dolar Amerika, dolar Australia, euro, dan yen.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rupiah mengalami apresiasi terhadap keempat mata uang tersebut dengan berada di level Rp 12.937,54. "Data apresiasi dipantau melalui tempat penukaran mata uang di seluruh Indonesia," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin, 17 Oktober 2016.

    Menurut Suhariyanto, rupiah menguat 2,27 persen atau 300,27 poin terhadap dolar Amerika. Sementara terhadap dolar Australia terapresiasi 0,73 persen atau 73,01 poin. Rupiah terhadap euro menguat 2 persen atau 295,37 poin dan terhadap yen 0,38 persen atau 0,49 poin.

    Nilai tukar rupiah tertinggi terhadap dolar Amerika tercatat di Nusa Tenggara yaitu sebesar Rp 12.821,67. Sementara kurs terendah berada di Gorontalo yaitu Rp 13.180. Kurs tertinggi terhadap dolar Australia tercatat di Kalimantan Utara yaitu sebesar Rp 9.456 dan terendah di Papua Rp 9.960,33.

    Nilai tukar rupiah tertinggi terhadap euro berada di Aceh yaitu Rp 14.296,12 dan terendah di Jawa Barat senilai Rp 14.609,29. Sementara kurs rupiah tertinggi terhadap yen berada di NTT Rp 121,50 dan terendah tercatat di Maluku Utara sebesar Rp 129,62.

    Jika dibandingkan dengan minggu kedua Oktober 2016 Suhariyanto mengatakan rupiah tetap terapresiasi atas dolar Australia, euro, dan yen. Namun nilainya melemah terhadap dolar Amerika.

    BPS mencatat apresiasi rupiah terhadap dolar Australia sebesar 0,60 persen, euro sebesar 0,88 persen, dan yen sebesar 2,21 persen. Sementara depresiasi terhadap dolar Amerika tercatat sebesae 0,37 persen.

    Suhariyanto menambahkan apresiasi Rupiah memiliki dampak positif dan negatif. Terhadap ekspor, apresiasi akan membuat harga barang ekspor lebih mahal. Namun penguatan rupiah mampu meningkatkan nilai ekspor Indonesia.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.