Bea Cukai Riau-Sumbar Klaim Tekan Kerugian Negara Rp 16,3 M

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Bea & Cukai menunjukan minuman keras sitaan asal Singapura dan China di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (1/12). Barang-barang tersebut berhasil di sita akhir November kemarin. TEMPO/Subekti.

    Petugas Bea & Cukai menunjukan minuman keras sitaan asal Singapura dan China di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (1/12). Barang-barang tersebut berhasil di sita akhir November kemarin. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Riau-Sumatera Barat mengklaim berhasil menekan kerugian negara sebesar Rp 16,3 miliar dari peredaran barang ilegal sepanjang 2016. Sebanyak 284 kasus diamankan dengan total nilai barang hasil tangkapan Rp 177.1 miliar.

    "Ada tiga komoditi teratas yang menimbulkan kerugian negara cukup besar," kata Kepala Bea dan Cukai Riau-Sumatera Barat Yusmariza, Kamis, 13 Oktober 2016.

    Menurut Yusmariza tiga komoditi teratas tersebut ialah rokok ilegal sebanyak 104 kasus, dengan barang bukti 34,2 juta batang senilai Rp 16,3 miliar. Potensi kerugian negara dari rokok mencapai Rp 12,8 miliar.

    Kemudian minuman keras dengan 37 kasus sebanyak 12,5 ribu liter. Nilai barang miras yang disita mencapai Rp 7,3 miliar dengan potensi kerugian negara Rp 1,4 miliar.

    Kerugian terbesar berikutnya berasal dari sembilan bahan kebutuhan pokok yang terdiri dari bawang merah dan gula. Sebanyak 505.697 kilogram bawang merah ilegal dan 3.700 kilogram gula pasir ilegal senilai Rp 3,6 miliar berhasil digagalkan peredarannya. Potensi kerugian negara dari komoditi sembako itu mencapai Rp 1,5 miliar.

    Selain tiga komoditi tersebut, Bea dan Cukai juga menggagalkan penyelundupan barang ilegal lainnya seperti tekstil,  telepon seluler, elektronik, makanan dan minuman, perhiasan, obat-obatan, narkoba, balpress, tembakau, bahan bakar minyak dan airsoftgun senilai total sekitar Rp 16 miliar

    Yusmariza menambahkan barang hasil tangkapan yang disita oleh bea dan cukai ditetapkan menjadi milik negara. Namun untuk barang ilegal yang tidak bisa bertahan lama, seperti bahan makanan, akan dimusnahkan. "Terhadap barang yang belum dimusnahkan akan dikakukan pemusnahan pada November mendatang," ujarnya.

    Yusmariza berujar panjangnya garis pantai timur Riau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka memicu banyaknya jalur gelap masuknya barang ilegal. Jumlah personil yang tidak sebanding dengan panjangnya garis pantai membuat petugas kesulitan dalam melakukan pengawalan. "Upaya penyelundupan kebanyakan berhasil dilakukan saat pelaku berada di daratan," ucapnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.