Harga Emas Turun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir lebih rendah pada Selasa atau Rabu pagi, 12 Oktober 2016, WIB karena tertekan kurs dolar Amerika Serikat yang menunjukkan penguatan.

    Indeks dolar Amerika naik 0,84 persen menjadi 97,70 pada pukul 17.45 GMT. Indeks adalah ukuran dari dolar Amerika terhadap sekeranjang mata uang utama.

    Emas dan dolar Amerika biasanya bergerak berlawanan arah. Artinya, jika dolar Amerika naik, emas berjangka akan jatuh, karena emas yang diukur dengan dolar Amerika menjadi lebih mahal bagi investor.

    Namun emas dicegah dari penurunan lebih lanjut karena pelemahan di sektor kesehatan Amerika mendorong indeks Dow Jones Industrial Average turun 213 poin atau 1,17 persen pada pukul 17.45 GMT.

    Para analis mencatat, ketika ekuitas membukukan kerugian, logam mulia biasanya naik, karena investor mencari aset-aset safe haven. Sebaliknya, ketika ekuitas Amerika membukukan keuntungan, logam mulia biasanya turun.

    Karena tidak ada data ekonomi signifikan yang dirilis pada Selasa, para investor berfokus pada potensi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dari 0,50 ke 0,75 selama pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember 2016.

    Menurut alat Fedwatch CME Group, probabilitas tersirat saat ini untuk menaikkan suku bunga dari 0,50 ke 0,75 adalah 10 persen untuk pertemuan pada November 2016 dan 70 persen pada pertemuan Desember 2016.

    Para pedagang juga sedang menunggu beberapa pidato Fed pada Rabu, bersama dengan rilis risalah pertemuan FOMC dari pertemuan bank sentral Amerika sebelumnya.

    Selain itu, laporan klaim pengangguran akan dirilis pada Kamis. Sedangkan indeks harga produsen dan laporan penjualan retail akan dirilis pada Jumat.

    Perak untuk pengiriman Desember turun 15 sen atau 0,85 persen menjadi ditutup di posisi US$ 17,509 per ons. Platinum untuk pengiriman Januari 2017 turun US$ 15,6, atau 1,62 persen menjadi ditutup di angka US$ 949,8 per ons, seperti dilansir Xinhua.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.