Luhut: Jepang dan Indonesia Akan Survei Bersama Kereta Semicepat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta api supercepat atau biasa disebut maglev, meluncur dengan kecepatan tinggi di Yamanashi Maglev Test Track. Kereta ini dikembangkan oleh Central Japan Railway Co. Yamanashi Prefecture, Jepang, 4 Juni 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    Kereta api supercepat atau biasa disebut maglev, meluncur dengan kecepatan tinggi di Yamanashi Maglev Test Track. Kereta ini dikembangkan oleh Central Japan Railway Co. Yamanashi Prefecture, Jepang, 4 Juni 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, dalam waktu dekat, akan ada survei bersama (joint survey) antara Indonesia dan Jepang terkait dengan proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya. Hal itu, kata dia, sebagai hasil kunjungannya ke Jepang beberapa hari lalu.

    "Soal kereta api cepat 200 kilometer Jakarta-Surabaya akan dibahas dengan Kementerian BUMN dan joint survey," ujar Luhut saat dicegat awak media di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, 11 Oktober 2016.

    Pekan lalu, Luhut menyatakan sudah menawarkan proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya 200 kilometer ke Jepang. Jepang yang ditawari karena ia berharap negara itu bisa melakukan alih teknologi kepada Indonesia dan mematuhi peraturan di Indonesia yang memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri.

    Luhut menuturkan kerja sama pengadaan kereta semicepat ini akan menjadi salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Sebab, dampak ekonominya tergolong besar lantaran akan mempermudah lalu lintas barang dan jasa Surabaya-Jakarta.

    Karena diprioritaskan, ditargetkan proyek itu sudah bisa dimulai pada kuartal kedua 2017. Namun, kata Luhut, dia harus melihat hasil joint survey dulu sebelum menentukan target pasti.

    "Ada working group juga untuk membahas hal itu. Kalau working group bekerja, tahun 2017 sudah bisa mulai," ucap Luhut.

    Ditanyai berapa nilai investasi dari proyek kereta cepat itu sendiri, Luhut menuturkan US$ 2,5-3 miliar. Namun belum bisa dipastikan bagaimana teknis pendanaannya nanti.

    "Soal teknis, saya belum bisa bicara. Itu semua lagi dibahas," ujar Luhut. Dia yakin Jepang akan berkomitmen dalam proyek ini mengingat investasi Jepang di Indonesia masih tergolong paling besar plus hubungan baik yang terjaga selama ini.

    ISTMAN M.P.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.