Ficer: Pahit Getirnya Hidup Nelayan di Sendang Biru, Malang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas jual beli ikan tuna di Pasar Ikan Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. TEMPO/Eko Widianto

    Aktivitas jual beli ikan tuna di Pasar Ikan Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. TEMPO/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Malang - Pria berkulit legam lantaran terbakar sinar matahari itu duduk di atas kapal ikan, bersama sesama nelayan. Namanya Slamet Muji Santoso, 24 tahun. Sehari-hari ia menghabiskan waktu di lautan, menjadi nelayan yang ia percaya adalah panggilan hidupnya.

    Slamet mewarisi pekerjaan ayahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sebuah perahu yang dibeli sang ayah pada 10 tahun silam menjadi modal utamanya.

    “Saat itu membeli perahu bekas seharga Rp 95 juta,” kata Slamet, nelayan Sendang Biru, Desa Tambak Rejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.

    Sudah lebih dari lima bulan Slamet dan kawan-kawannya tak melaut karena cuaca buruk dan gelombang tinggi. Mereka memilih memperbaiki alat tangkap sambil menunggu cuaca kembali membaik. Namun nelayan nekat melaut untuk menangkap ikan tuna dan cakalang demi memenuhi kebutuhan hidup. Meski taruhannya adalah nyawa dan tenggelam ditelan gelombang besar. Mereka tak punya pilihan. Terjerat utang dan tagihan yang menumpuk yang membuat mereka menjadi nekat.

    Slamet memilih tak melaut. Untuk kebutuhan hidup dia berutang kepada pengambek atau tengkulak. “Utang dulu, dibayar setelah dapat ikan,” ucapnya.

    nelayan Sendang Biru, Malang

    Tak hanya untuk membeli bahan makanan selama tak melaut, dia juga berutang kepada pengambek untuk biaya operasional selama melaut. Jumlahnya tak kecil, sebesar Rp 10-12 juta untuk membeli 120 kilogram es, bahan makanan, dan 1.000 liter solar. Itu bekal yang digunakan untuk berlayar selama 10-12 hari dengan lima anak buah kapal.

    Selama musim ikan, kata Slamet, dalam sepekan bisa terkumpul sekitar 100 ekor ikan tuna yang besarnya bisa mencapai 50-70 kilogram. Tapi saat musim paceklik, selama sepekan melaut bahkan tak bisa membawa pulang satu ekorpun. Itu sebabnya, nelayan terpaksa berutang kepada tengkulak dan terus menumpuk. Hasil penjualan dari tangkapan ikan bisa dibuat untuk membayar utang tersebut.

    Perahulah yang jadi jaminan utang kepada pengambek. Tak jarang, nelayan harus rela kehilangan kapalnya lantaran tak mampu membayar utang yang terus menumpuk, kala ikan hasil tangkapan nihil. Para nelayan yang jatuh bangkrut, akhirnya menjadi anak buah kapal biasa. Pengambek menyita kapal yang dijaminkan.

    “Banyak kapal yang sudah disita, jangan sampai kapal saya juga disita,” kata Slamet. Dia memilih berutang ke pengambek karena lebih cepat dan tak ribet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?