KAI Akan Ganti 900 Kereta Hingga 2019  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kereta ekonomi AC PT Inka. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ilustrasi Kereta ekonomi AC PT Inka. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan akan mengganti 900 kereta sebagai program peremajaan armada dalam 3 tahun ke depan. Direktur Komersial PT KAI M. Kuncoro Wibowo mengungkapkan pihaknya akan fokus pada peremajaan armada kereta, karena hampir separuhnya telah berusia di atas 30 tahun sehingga harus diperbaharui.

    Pada 2017 ditargetkan akan ada penggantian kereta lama dengan yang baru sebanyak 438 kereta yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT Inka yang akan memproduksi seluruh gerbong kereta baru.

    Armada kereta yang akan diganti terdiri dari kereta kelas eksekutif (K1) sebanyak 210 kereta, kereta kelas ekonomi (K3) berkapasitas 80 dan 64 tempat duduk sebanyak 150 kereta, sisanya untuk kereta wisata dan kereta makan.

    “Hingga 2019, peremajaan kereta ditargetkan sebanyak 900 kereta, terutama untuk mengganti sarana kereta yang berumur di atas 30 tahun. Jadi, tujuannya untuk peningkatan standar keamanan dan kualitas pelayanan sehingga peningkatan okupansi tidak signifikan,” ujarnya, Senin, 10 Oktober 2016.

    Kuncoro menjelaskan perseroan tengah fokus untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan perjalanan kereta dengan memacu peremajaan armada yang sudah melewati umur laik operasi.

    Peremajaan tersebut dilakukan terhadap hampir 50 persen dari total jumlah kereta yang dimiliki Kereta Api Indonesia saat ini, yaitu 1.763 unit kereta. “Semuanya gerbong kereta. Kalau untuk lokomotif, tahun ini sudah didatangkan sebanyak 50 unit seri CC206 dari GE, dan jumlahnya sudah mencukupi untuk meningkatkan pelayanan angkutan penumpang maupun barang,” ujarnya.

    Berkaitan dengan nilai investasi untuk peremajaan, pihaknya belum bisa menentukan besarannya karena spesifikasi kereta yang akan dikembangkan masih disiapkan dan dihitung oleh PT Inka sesuai dengan kebutuhan.

    Menurut Kuncoro, investasi peremajaan armada dilakukan bertahap sesuai dengan kepasitas finansial yang dimiliki perseroan. “Tetapi, kami belum mengetahui pasti angka pastinya, karena masih dihitung spesifikasi kereta yang dibutuhkan seperti apa. Tentunya, akan berbeda antara kereta jarak pendek, menengah dan jarak jauh,” paparnya.

    Kuncoro menambahkan, untuk peningkatan okupansi atau kapasitas angkut penumpang kereta jarak jauh akan dilakukan melalui pengaturan jumlah kursi dalam gerbong, penambahan rangkaian, dan optimalisasi layanan pada musim puncak.

    “Tahun ini, target penumpang untuk kereta jarak jauh naik dari 69 juta orang menjadi 72 juta orang. Realisasinya sudah 90 persen tercapai dengan target pendapatan sebesar Rp 5,1 triliun,” imbuhnya.

    Untuk 2017, pihaknya juga akan memacu layanan kereta barang yang diharapkan bisa menjadi penopang pendapatan terbesar perseroan dengan target pendapatan yang bisa mencapai Rp 6,3 triliun dari tahun ini sekitar Rp 5 triliun.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.