Suplai Beras Meningkat, Berbanding Terbalik dengan Harga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menjemur gabah di daerah terdampak genangan Waduk Jatigede, Desa Cibogo, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, 7 Agustus 2015. Kemarau panjang akibat dampak El Nino diprediksikan bakal mempengaruhi stok beras di masa paceklik di awal tahun depan. Idealnya Bulog memiliki stok 2,5 juta ton beras pada akhir tahun. TEMPO/Prima Mulia

    Petani menjemur gabah di daerah terdampak genangan Waduk Jatigede, Desa Cibogo, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, 7 Agustus 2015. Kemarau panjang akibat dampak El Nino diprediksikan bakal mempengaruhi stok beras di masa paceklik di awal tahun depan. Idealnya Bulog memiliki stok 2,5 juta ton beras pada akhir tahun. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga beras dapat kembali menurun seiring dengan musim hujan di India yang turut membangkitkan produksi global. Pada perdagangan di bursa Thailand, harga beras putih 5% yang menjadi patokan Asia per Rabu 5 Oktober 2016 terkoreksi 1,85% atau 7 poin menjadi US$372 per ton. Adapun pergerakan harga di bursa tersebut terjadi seminggu sekali setiap Rabu.

    Jac Luyendijk, chief executive officer of SAT Swiss Agri Trading SA, menuturkan harga beras putih dapat terkoreksi 10% pada kuartal terakhir 2016. Pasalnya proses panen sudah dimulai dalam beberapa bulan ke depan, sedangkan permintaan masih tertekan.

    Sebelumnya harga merosot pada kuartal III/2016, yang menjadi koreksi terbesar sejak periode yang sama tahun 2013. Beras putih merupakan patokan pasar Asia. Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat ( U.S. Department of Agriculture/ USDA), produksi beras yang sudah diolah di seluruh negara mungkin mencapai rekor tertinggi sebesar 481,7 juta ton pada musim 2016--2017. Pasokan dari India, sebagai eksportir terbesar sejak 2012, akan melonjak setelah petani meningkatkan penanaman.

    India sedang mengalami curah hujan normal pertama dalam tiga tahun terakhir. Alhasil, pasokan yang sebelumnya kurang dipacu kembali. "Kami melihat banyak negara pengekspor yang melakukan hal sama dengan pulihnya cuaca. Secara otomatis ini akan menekan harga. Prospek harga diperkirakan tetap negatif dalam 4--6 bulan mendatang," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10 Oktober 2016).

    Laporan USDA pada bulan lalu memaparkan, India akan mengekspor 10 juta ton beras tahun ini dan 2017 sebesar 9,5 juta ton, naik dari proyeksi sebelumnya sejumlah 8,8 juta ton. Sementara itu, Thailand akan melakukan panen pada bulan ini. Jantida Meedech, deputy secretary general at the Office of Agricultural Economics memprediksi produksi meningkat sekitar 4,5% menjadi 25 juta ton. Sekitar 80% dari pasokan tersebut akan masuk ke pasar global pada kuartal ketiga. *

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?