Jatim Siap Pasok Kebutuhan Daging Sapi Nasional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sapi. ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo

    Ilustrasi sapi. ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo

    TEMPO.CO, Lamongan - Menteri Perdagangan Enggartiarso Lukito mengatakan pemerintah berencana mengimpor sapi khusus bakalan. Tujuannya, untuk melindungi dan menambah populasi sapi sehingga dalam jangka waktu tertentu, pemerintah bisa berbalik untuk ekspor sapi.

    “Langkah awal impor sapi bakalan,” ujarnya dalam acara Panen Pedet (Anak Sapi) dan Pencangan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) Nasional di Waduk Gondang, Lamongan, Sabtu, 8 Oktober 2016.

    Enggartiarso mengaku telah membahas dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo ihwal bagaimana peternak bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Kementerian Perdagangan; Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Kementerian Koperasi dan UKM; serta Kementerian Pertanian akan membentuk kelompok koperasi di desa-desa.

    Kebijakan impor sapi bakalan untuk petani, kata dia, juga bisa lewat koperasi yang kerja sama dengan bank-bank pemerintah. “Untuk impornya, kami yang keluarkan izin,” ujarnya.

    Soekarwo menyatakan Jawa Timur siap memasok kebutuhan daging sapi nasional. Dia optimistis dengan adanya rencana program penambahan benih inseminasi buatan (IB) oleh Kementerian Pertanian kepada Jawa Timur yang awalnya hanya 1,3 juta menjadi 2 juta.

    Menurut dia, saat ini Jawa Timur telah mampu mencukupi kebutuhan daging sapi dalam provinsi, dengan kebutuhan daging sapi sekitar 80 ribu ton, sedangkan produksinya mencapai 95 ribu ton sehingga ada surplus 15 ribu ton. Soekarwo menyebut, dari 1,3 juta benih inseminasi buatan di Jawa Timur telah menghasilkan 1,050 juta pedet. Dari jumlah tersebut, 300 ribu ekor sapi siap potong dikirim ke luar provinsi. "Dengan adanya tambahan IB tentunya peran Jatim sebagai daerah penyangga kebutuhan daging sapi nasional akan bertahan,” katanya.

    Soekarwo menuturkan, konsumsi per kapita daging pada 2015 mencapai 2,2 kilogram per kapita per tahun atau setara dengan 550 ribu ton. Sedangkan kemampuan produksi daging sapi dalam negeri hanya 406 ribu ton. Artinya terdapat kekurangan pasokan daging sapi nasional sebesar 144 ribu ton atau setara 847 ribu ekor sapi.

    “Kesenjangan antara pasokan dan permintaan inilah yang menyebabkan tingginya harga jual daging di pasar," tutur Karwo. Itu sebabnya, upaya penambahan populasi ternak melalui IB misalnya harus menjadi prioritas utama.

    Namun Karwo mengingatkan agar bantuan benih IB kepada peternak itu diharapkan bisa diberikan dengan harga murah. “Kita jangan pernah mengkompetisikan pengusaha ternak besar di sisi efisiensi dengan peternak kecil yang baru memiliki dua atau tiga sapi,” ucapnya.

    Untuk meningkatkan populasi ternak sapi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Balai Besar Veteriner Wates yang merupakan salah satu UPT Kementerian Pertanian, telah melakukan penanganan ternak yang mengalami gangguan reproduksi. Dari 135.647 ekor sapi yang mengalami gangguan reproduksi di 34 kabupaten dengan tingkat kesembuhan mencapai 77 persen.

    Karwo juga mengusulkan membuat aplikasi berbasis Android untuk memantau birahi indukan sapi. Aplikasi IT tersebut nantinya diharapkan bisa diakses semua peternak dan petugas inseminasi atau inseminator.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan telah menyiapkan anggaran Rp 1 miliar untuk benih IB. Dari total anggaran tersebut nantinya akan disiapkan 4 juta benih IB. Khusus Jawa Timur dialokasikan 2 juta.

    “Kementan bertugas menyiapkan bahan baku, Menkop dan UMKM sebagai pengolah bahan baku, dan Kemendag bertugas melakukan pemasaran hasil. Ini adalah wujud sinergi antarkementerian,” tuturnya.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.