Bank Dunia: Pertumbuhan Cina Terus Melamban

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pencari kerja antre di bursa kerja yang berlangsung di Shanghai, Cina (7/2). Pemerintah Cina menyatakan pertumbuhan ekonomi kwartal terakhir 2008 adalah 6,8 persen. Foto: AP

    Para pencari kerja antre di bursa kerja yang berlangsung di Shanghai, Cina (7/2). Pemerintah Cina menyatakan pertumbuhan ekonomi kwartal terakhir 2008 adalah 6,8 persen. Foto: AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Dunia memperkirakan Cina akan terus melakukan transisi ke pertumbuhan yang lebih lamban dan berlangsung secara berkelanjutan. “Yakni dari 6,7 persen pada tahun ini, 6,5 persen tahun 2017, dan 6,3 persen di 2018,” ujar Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa, mengutip laporan World Bank tentang perkembangan ekonomi Asia Timur dan Pasifik, dalam pesan tertulisnya, Rabu, 5 Oktober 2016.

    Sedangkan untuk wilayah lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik, pertumbuhan diproyeksikan akan stabil pada 4,8 persen tahun ini, 5 persen tahun 2017, dan 5,1 persen di 2018. Secara keseluruhan, Asia Timur diperkirakan tumbuh sebesar 5,8 persen tahun ini, dan turun menjadi 5,7 persen pada 2017-2018.

    Menurut Kwakwa, proyeksi untuk kawasan berkembang Asia Timur dan Pasifik tetap positif. Adanya pelemahan pertumbuhan global dan permintaan eksternal, kata dia, bisa diimbangi oleh konsumsi domestik dan investasi yang kuat. "Tantangan jangka panjang adalah meneruskan pertumbuhan dan membuatnya menjadi inklusif.”

    Baca juga: BI Segera Terapkan Mesin Deposito Uang Koin  

    Hal itu bisa dilakukan dengan mengurangi kesenjangan penghasilan dan akses layanan umum, terutama Cina, dan memperbaiki infrastruktur seluruh kawasan. Selain itu, yang bisa dilakukan adalah mengurangi malnutrisi anak dan mempertajam potensi teknologi untuk menumbuhkan inklusi finansial.

    Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan di negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik masih akan tetap bertahan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Namun kawasan ini masih menghadapi berbagai risiko besar, dan beberapa negara perlu mengambil langkah untuk mengurangi kerentanan finansial serta fiskal.

    Dalam jangka panjang, mengutip laporan Bank Dunia yang baru dirilis, Kwakwa menyarankan agar negara-negara mengatasi rintangan terhadap pertumbuhan inklusif yang berkesinambungan. "Yaitu dengan memenuhi kesenjangan infrastruktur, mengurangi malnutrisi, dan memperkuat inklusi keuangan," tuturnya.

    Simak: Sembilan Wanita Muslim Terkaya di Dunia

    Bank Dunia melakukan analisis yang komprehensif terkait dengan proyeksi Asia dan Pasifik dengan latar belakang keadaan dunia yang menantang, termasuk pertumbuhan yang melemah di dunia maju. Laporan ini memperkirakan permintaan domestik akan tetap kuat di hampir seluruh kawasan. Adapun harga komoditas yang terus menurun akan menguntungkan importir komoditas dan menjaga inflasi tetap rendah di hampir seluruh kawasan.

    Di Cina, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan akan melemah seiring dengan perekonomiannya yang terus menguji ke sektor konsumsi, pelayanan dan aktivitas dengan nilai tambah yang tinggi, dan kelebihan kapasitas industri yang dikurangi. Namun pasar tenaga kerja yang lebih ketat akan terus mendukung pertumbuhan pendapatan dan konsumsi rumah tangga.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.