Usai Refinancing Utang, VIVA Fokus Kembangkan Bisnis TV

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo ANTV. wikipedia.org

    Logo ANTV. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini PT Visi Media Asia (VIVA) kembali melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka meminta persetujuan pemegang saham  melakukan refinancing utang ke anak usaha mereka PT Cakrawala Andalas TV dan PT Lativi Media Karya (TVOne). Dalam rapat tersebut akhirnya mayoritas pemegang saham menyetujui VIVA untuk melakukan refinancing utang.

    Presiden Direktur VIVA Anindya Bakrie mengatakan, pihaknya bersyukur dapat melakukan refinancing utang karena dengan melakukan perpindahan beban utang maka biaya financing mereka akan turun. “Kami bisa fokus untuk operasional fundamental, untuk ANTV tetap menjadi satu, TV one sebagai news tv nomor satu, dan viva.co.id sebagai entertainment platform. Jadi sudah bisa fokus pada kerjaan,” katanya saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 30 September 2016.

    Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek kemarin, sebelumnya VIVA berencana untuk mendivestasikan saham anak usaha mereka, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sebesar 7,15 persen, atau senilai 280,31 juta lembar saham dengan asumsi harga sebesar Rp 3.350 per saham. Harga tersebut merupakan harga rata-rata dari harga saham tertinggi MDIA selama 90 hari terakhir saat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

    Baca: Premium Belum Jadi Dihapus, Ini Sebabnya

    Menurut Manajemen VIVA, dana hasil divestasi akan digunakan untuk melunasi premi mereka kepada Credit Suisse AG Singapura. “Dana hasil divestasi ini untuk melunasi premi kepada Credit Suisse sehubungan dengan pelaksanaan pelunasan yang dipercepat (prepayment) atas utang perseroan,” seperti dilansir pada keterbukaan informasi di Bursa Efek, Jumat, 30 September 2016.

    Namun kata Anindya meski  telah mendapat approval untuk menjual saham MDIA sebesar 15 persen, perseroan akan kembali melihat kebutuhan dan animo pasar. Sebenarnya jika melihat dari jumlah utang sebesar US$ 230 juta dan EBITDA untuk menutup kekurangan  sebesar US$ 80 juta, perusahaan akan mampu membayarkan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.

    “Jadi, sebetulnya divestasi itu hanya upaya mempercepat agar pembayaran utang ini semakin cepat lagi. Sebenarnya di refinancing ini juga tidak jatuh tempo sampai tahun depan. Kalau pun bisa dipercepat lagi, kami akan lakukan divestasi,” ujar putra sulung politikus Golkar Aburizal Bakrie ini.

    Baca: Raffi Beri Ayu Ting Ting Mini Cooper? Ini Kata Ibunda

    Untuk melunasi utang, menurut Anindya perseroan memilih untuk mengalihkan utang  kepada anak usaha i PT Cakrawala Andalas (CATV), sehingga utang VIVA kepada Credit Suisse akan dianggap lunas.  Selanjutnya, CATV akan mendapat pinjaman dari sindikasi bank di Indonesia untuk membayar utang mereka kepada Credit Suisse, dengan perhitungan sisa utang sebesar US$ 230 juta dikurangi pembayaran bunga dan lain-lain menjadi US$ 220 juta.

    Ketika terjadi pelunasan, maka perseroan akan menerima pinjaman baru maksimum US$ 65 juta dari Credit Suisse. Dari nilai itu, perseroan akan menggunakan US$ 50 juta untuk kebutuhan prepayment. Sehingga berdasarkan laporan keuangan konsolidasian  untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2016, sisa utang perseroan berdasarkan credit agreement tersebut menjadi sebesar US$ 160,84 juta, atau setara dengan Rp 2,13 triliun.

    Simak: Dituduh Selingkuh & Lady Evil, Ibu Kiswinar Laporkan Mario

    “Untuk total refinancing dalam bentuk dolar. Jadi kami akan lihat mana yang paling menguntungkan, karena kita lihat dari hasil tax amnesty ini, rupiah menguat. Tentu saja komposisinya akan berdasarkan harga, mana yang paling efisien saat ini,” ucap Anindya.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.