Tahun Depan Tarif Cukai Rokok Naik Jadi 10,54 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cukai rokok. ANTARA/M Agung Rajasa

    Cukai rokok. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana untuk menaikkan tarif cukai rokok rata-rata tahun 2017 sebesar 10,54 persen. Rencana kenaikan itu lebih rendah dibandingkan tarif yang diberlakukan tahun ini sebesar 11,19 persen.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan tarif terbesar berlaku untuk rokok jenis hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SMT) yaitu 13,46 persen. Sementara tarif terendah yaitu 0 persen rokok jenis hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT).

    Menurut Sri, kenaikan  tarif cukai rokok ini didasarkan kepada lima aspek. "Aspek kesehatan, tenaga kerja, petani tembakau, peredaran rokok ilegal, dan penerimaan negara," katanya di Direktorat Jenderal Bea Cukai, Jakarta, Jumat, 30 September 2016.

    Baca: Harga Premium Turun Mulai Besok?

    Dari aspek kesehatan, Sri mengatakan pemerintah  mempertimbangkan pembatasan konsumsi. Jumlah pabrik rokok berkurang dari 4.669 pabrik menjadi 754 pabrik dalam sepuluh tahun terakhir.

    Pemerintah juga mempertimbangkan kebijakan pengembalian sebagian dana ke pemerintah daerah sebagai dana alokasi kesehatan (earmarking). Pada 2014, dana earmarking sebesar Rp 11,2 triliun, pada 2015 jumlahnya naik menjadi   Rp 15,14 Triliun. Untuk 2016, dana earmarking diperkirakan sebesar Rp 17 triliun.

    Menkeu mengklaim pertumbuhan produksi hasil tembakau telah dikendalikan. Dalam sepuluh tahun terakhir, tren pertumbuhan produksi hasil tembakau turun 0,28 persen dan di saat bersamaan jumlah penduduk Indonesia tumbuh sebesar 1,4 persen.

    Simak: Rayuan Bos Polisi ke Jessica Wongso: Kamu Tipe Saya Banget

    Pertimbangan aspek tenaga kerja didasarkan kepada keberlangsungan lapangan pekerjaan sektor formal sebesar 401 ribu orang. Menurut Sri, 291 ribu orang di antaranya terlibat di produksi SKT. Jika ditambah dengan sektor informal, kebijakan tarif cukai akan berdampak kepada 2,3 juta petani tembakau, 1,5 juta petani cengkeh, 600 ribu buruh tembakau, dan satu juta pedagang eceran.

    Dari aspek rokok ilegal, Sri mengatakan pemerintah terus berupaya memberantas  peredaran rokok ilegal. Hingga 29 September 2016, Bea Cukai berhasil menggagalkan 1.593 kasus peredara rokok ilegal, ini meningkat 1,29 kali dibandingkan 2015 yaitu 1.232  kasus dan 1,76 kali dibandingkan 2014 yaitu 901 kasus.

    Baca: Dituduh Selingkuh & Lady Evil, Ibu Kiswinar Laporkan Mario

    Terkait dengan penerimaan negara, Sri  mengungkapkan kontribusi cukai terhadap APBN hingga kini berada pada kisaran 10-12 persen. Pada 2014, kontribusi cukai terhadap APBN sebesar 12,29 persen; pada 2015 sebesar 11,68 persen; dan pada 2016 sebesar 11,72 persen. "Walau berkontribusi cukup besar, angka dan peranannya menunjukkan penurunan yang berart."

    Sri mengatakan keputusan kenaikan  tarif cukai rokok sudah dibicarakan dengan berbagai pihak terkait seperti stakeholder, pihak yang peduli masalah kesehatan dan lapangan pekerjaan, petani tembakau, dan asosiasi pengusaha rokok. Keputusan tarif diputuskan diumumkan hari ini bertujuan untuk memberikan waktu kepada berbagai pihak, terutama industri dan pemerintah sendiri, untuk mempersiapkan diri.

    VINDRY FLORENTIN

    Baca:Raffi Beri Ayu Ting Ting Mini Cooper? Ini Kata Ibunda



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.