Akhir September, Penerbitan Surat Utang Capai Rp 585,6 T

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Kementerian Keuangan Republik Indonesia. TEMPO/Subekti

    Gedung Kementerian Keuangan Republik Indonesia. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, hingga Rabu 28 September 2016, realisasi penerbitan bruto surat berharga negara telah mencapai 89,49 persen atau Rp 585,6 triliun. Hingga akhir tahun,  pemerintah masih membutuhkan penerbitan surat utang hingga Rp 68,7 triliun.

    Salah satu cara pemerintah untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2016 tersebut, menurut Robert, adalah dengan membuka masa penawaran Obligasi Negara Ritel atau ORI seri 013 hari ini hingga 20 Oktober mendatang. Melalui penerbitan obligasi ritel tersebut, pemerintah mematok target indikasi sebesar Rp 20 triliun.

    "Dengan target penerbitan ORI tersebut, ini (Rp 68,7 triliun) dapat berkurang signifikan. Sisanya, melalui lelang reguler setiap minggu," ujar Robert usai membuka masa penawaran ORI 013 di Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis, 29 September 2016. Hingga kini, menurut dia, sudah terdapat penawaran hingga Rp 25 triliun.

    Baca: Kadin Ikut, Deklarasi Harta Tax Amnesty Sentuh Rp 2.512,6 T

    Hingga 31 Agustus, menurut Robert, total outstanding ORI sebesar Rp 68,86 triliun atau 2 persen dari total outstanding surat berharga negara. Pada 2015 lalu penerbitan ORI mencapai Rp 27 triliun. "Nominal tersebut adalah nominal ORI terbesar yang pernah diterbitkan. Hingga tahun lalu, total penerbitan ORI telah mencapai Rp 146,48 triliun."

    Tingkat pertambahan investor baru, menurut Robert, juga cukup besar, yakni 74 persen dari total investor atau 17.846 orang setiap serinya. "Artinya, hampir 20 persen dari total investor dalam setiap penerbitan ORI merupakan investor baru yang belum pernah membeli ORI sebelumnya. Sejak diterbitkan pada 2006, pembeli ORI telah mencapai 214.151 investor," kata Robert.

    Investor ORI, menurut Robert, didominasi oleh investor yang berada di Indonesia bagian barat selain DKI Jakarta. Investor dari wilayah barat Indonesia mencapai 48 persen. Sementara itu, DKI Jakarta 40 persen serta wilayah Indonesia bagian tengah dan timur 11 persen. "Cakupan juga berkembang, dari 31 provinsi pada 2006 menjadi 34 provinsi pada 2015."

    Simak: Sindir Mario, Hotman Paris: Tukang Becak pun Sayang Anaknya

    Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Divison Anugerah Securindo Indah, menilai di tengah derasnya capital inflow di pasar SBN saat ini, kemungkinan target nilai emisi ORI 013 di kisaran Rp 20 triliun tercapai. “Bahkan, bisa lebih dari itu. Kemungkinan besar bila pasarnya bagus, maka pemerintah bisa upsize,” katanya, Selasa 6 September 2016.

    Ramdhan memperkirakan kupon ORI 013 di kisaran 6,5-7 persen, dengan memperhitungkan suku bunga deposito sebesar 6 persen. “Kalau spread dengan deposito bisa di atas 1 persen saja, itu sudah sangat menarik bagi investor ritel memiliki ORI013,” katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI | BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.