Harga Seng Diprediksi Terus Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nizam (11 tahun), bekerja di pabrik peralatan logam di Dhaka, Bangladesh, 12 Juni 2016. Hari tersebut digagas oleh badan perburuhan PBB, ILO. AP/A.M. Ahad

    Nizam (11 tahun), bekerja di pabrik peralatan logam di Dhaka, Bangladesh, 12 Juni 2016. Hari tersebut digagas oleh badan perburuhan PBB, ILO. AP/A.M. Ahad

    TEMPO.CO, Jakarta - Membaiknya faktor fundamental membuat seng menjadi logam terbaik dengan kenaikan harga sekitar 44% sepanjang tahun berjalan. Tren positif ini diperkirakan berlanjut hingga 2017.

    Pada penutupan perdagangan Selasa (27 September 2016) waktu setempat, harga seng di London Metal Exchange (LME) naik 31 poin atau 1,35% menjadi US$2.320 per ton. Angka tersebut menunjukkan seng menguat 44,19% sepanjang tahun berjalan.

    Sebelumnya, seng sempat mencapai titik terendah di level US$1.468 per ton di awal Januari seiring anjloknya bursa China. Hal tersebut menunjukkan proyeksi melemahnya permintaan dari Negeri Panda.

    Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Tradepoint Futures, menuturkan pengetatan pasokan bijih seng menjadi sentimen positif terhadap harga. Di sisi lain, ekonomi China yang mulai rebound meningkatkan prospek tumbuhnya permintaan.

    Seng digunakan dalam proses pembuatan baja untuk pengembangan infrastruktur di China. Negeri Panda pun menyerap sepertiga suplai bijih besi global dan memasok 50% suplai baja di pasar global.

    Mengutip data Goldman Sachs Group Inc., seng menjadi logam andalan dalam pembentukan infrastruktur China. Secara keseluruhan, pasokan seng pada tahun ini turun 3,2%, sedangkan konsumsi naik 1,9%.

    Hal tersebut memicu defisit dalam pasar global pada 2016 sebanyak 114.000 ton dan 360.000 ton pada 2017. Kebutuhan dan cadangan yang tidak seimbang menjadi katalis positif bagi harga emas.

    Menurut Deddy, tren bullish seng tetap bertahan hingga tahun depan. Namun, tetap masih ada faktor-faktor yang perlu diwaspadai, seperti fundamental suplai dan permintaan, ekspektasi inflasi, serta pertumbuhan ekonomi global.

    Terkait menguatnya probabilitas Federal Reserve mengerek suku bunga pada Desember 2016, sehingga menguatkan dolar, hal itu diyakini tidak akan terlalu berpengaruh bagi seng. Pasalnya, fundamental komoditas logam tersebut masih kokoh.

    Hingga akhir 2016, Deddy memprediksi harga seng akan bergerak pada rentang US$2.415--US$2.515 per ton. "Namun, jika harga menyentuh US$2.537 per ton, ada baiknya investor berhati-hati karena rawan koreksi," tuturnya kepada Bisnis.com, Rabu (28 September 2016).

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.