RUU Alkohol, Multi Bintang Tunda Ekspansi Perluasan Pabrik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa kadaluarsa botol kaleng minuman yang diproduksi oleh PT Multi Bintang Indonesia (MBI) Tbk di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur, 18 Mei 2016. Ikuti aturan pemerintah, MBI juga memproduksi minuman non beralkohol guna juga untuk memenuhi kebutuhan konsumen. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Pekerja memeriksa kadaluarsa botol kaleng minuman yang diproduksi oleh PT Multi Bintang Indonesia (MBI) Tbk di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, Jawa Timur, 18 Mei 2016. Ikuti aturan pemerintah, MBI juga memproduksi minuman non beralkohol guna juga untuk memenuhi kebutuhan konsumen. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.COJakarta - PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) menunda ekspansi untuk memperluas lahan pabrik birnya di Mojokerto senilai Rp 635 miliar karena masih terganjal peraturan menteri perdagangan terkait dengan peredaran minuman beralkohol dan RUU Alkohol yang tak kunjung selesai dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat.

    Direktur Hubungan Korporasi Multi Bintang Indonesia Bambang Britono mengatakan, dengan adanya Permendag Nomor 6/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Perizinan Minuman Beralkohol, perusahaannya terpaksa menjadwal ulang perluasan pabrik.

    "Kan, sebetulnya lebih pada waktu. Sebab, kemarin kan sempat turun (penjualannya) karena Permendag. Jadi kami menjadwalkan ulang," ujar Bambang saat ditemui di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat, 23 September 2016.

    Selain itu, adanya RUU Alkohol yang melarang produksi, distribusi, dan konsumsi minuman dengan kandungan alkohol 1-55 persen membuat rantai distribusinya ikut terhambat. Meski demikian, Bambang optimistis pemerintah akan mampu membuat kebijakan yang adil untuk produsen alkohol.

    "Karena industri kami kan cukup besar, bukan saja kepada cukai dan pajak, tapi juga multiplier effect industri lain, misal pariwisata. Jadi pasti ada kearifan yang akan dipertimbangkan," kata Bambang.

    Hingga saat ini, perusahaan telah memiliki dua pabrik minuman beralkohol di Sampang Agung, Mojokerto, Jawa Timur, dan Tangerang, Banten. Adapun jumlah pabrik minuman non-alkohol hanya ada satu di Sampang Agung. 

    Pabrik minuman non-alkohol di Sampang Agung berdiri pada 2014 dengan nilai investasi sekitar Rp 210 miliar. Fasilitas produksi baru ini dibangun dalam waktu sembilan bulan dan mulai resmi beroperasi pada Agustus 2014. 

    DESTRIANITA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.