Kondisi 12 Pelabuhan Pangkalan Ikan Memprihatinkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah nelayan memperbaiki jaringnya saat berada di Pelabuhan Perikanan Pantai Moro, Demak, 15 September 2016. Nelayan lebih memilih memperbaiki jaringnya karena tidak berlayar saat terang bulan. TEMPO/Fajar Januarta

    Sejumlah nelayan memperbaiki jaringnya saat berada di Pelabuhan Perikanan Pantai Moro, Demak, 15 September 2016. Nelayan lebih memilih memperbaiki jaringnya karena tidak berlayar saat terang bulan. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Dari 12 pelabuhan pangkalan ikan yang ada di Kaltim, hanya 8 pelabuhan ikan yang masih beroperasi, salah satunya adalah pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Selili di Samarinda.

    Kepala Dinas Kalautan dan Perikanan Kaltim Nur Sigit mengatakan pelabuhan pangkalan ikan Selili melakukan bongkar muar ikan setiap harinya sekitar 40 ton. Dia berharap pelabuhan-pelabuhan lain kapasitasnya bisa ditingkatkan agar para nelayan maupun para pembeli ikan bisa leluasa melakukan transaksi jual beli ikan.

    Menurutnya, beberapa pelabuhan ikan di kabupaten/kota perlu dievaluasi, karena kondisinya saat ini sudah tidak memungkinkan lagi. Lokasi dan arealnya tetap, sementara para pembeli ikan semakin bertambah, seperti pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Selili rata-rata perhari 40 ton.

    Sekitar 20% atau 8 ton dijual ke luar Samarinda antara lain ke Kutai Barat, Mahakam Ulu dan Kutai Kartanegara (Tenggarong). Sementara itu yang beredar di Samarinda rata-tara 32 ton dan itu pun masih kurang.

    "Oleh karena itu Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim terus berupaya menarik para nelayan agar bisa melakukan pendaratan ikan atau bongkar muat di pelabuhan pangkalan ikan Selili," ujarnya seperti yang dikutip, Senin (19 September 2016).

    Yang penting, lanjut Nur Sigit, adalah pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Selili ke depan harus ditingkatkan kelasnya, karena yang ada sekarang masih kelas D. Oleh karena itu bisa ditingkatkan menjadi kelas C dan namanya bukan lagi pangkalan tetapi pelabuhan perikanan pantai.

    Dari pantauan dan peninjauan langsung di lapangan khususnya pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Selili yang luasnya hanya 1,2 hektar. Sebagai pangkalan ikan sudah terlalu sempit, sehingga perlu dilakukan evaluasi.

    "Kita mencita-citakan pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Selili kelasnya bisa ditingkatkan dari kelas D menjadi kelas C, tetapi itu kewenangan Kota Samarinda. Kalaupun nantinya mau ditingkatkan itu harus minimal dengan luas 4 hektar. Kalau lahannya masih seperti sekarang, tentu belum bisa naik kelas," kata Nur

    Ditambahkan pelabuhan ikan yang ada diantaranya Selili di Samarinda, Sambaliung di Kabupaten Berau, pelabuhan pangkalan pendaratan ikan di Sangata Kutai Timur dan Manggar Baru Balikpapan.

    "Kalau memang sudah tidak memungkinkan perlu dilakukan evaluasi, apakah pelabuhannya perlu dilakukan perluasan pada tempat yang sama, atau dilakukan relokasi di tempat lain, tapi itu semua kewenangan masing-masing kabupaten dan kota," tutur Nur.


    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).