Sentimen Positif, IHSG Berpeluang Menguat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pialang tengah memantau pergerakan saham pada layar monitor di Mandiri Sekuritas, Jakarta, 8 April 2016. Hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu kembali ke zona hijau dan ditutup melemah. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang pialang tengah memantau pergerakan saham pada layar monitor di Mandiri Sekuritas, Jakarta, 8 April 2016. Hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu kembali ke zona hijau dan ditutup melemah. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Dalam perdagangan hari ini, indeks harga saham gabungan atau IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dan berpeluang menguat terbatas. Analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, mengatakan peluang menguatnya IHSG terutama ditopang sentimen redanya spekulasi kenaikan tingkat bunga di Amerika Serikat bulan ini. 

    Pelaku pasar yang optimistis terhadap pencapaian perolehan dana tebusan dari program tax amnesty menjelang akhir September ini juga menjadi penggerak sentimen positif indeks saham. "Namun transaksi diperkirakan tipis mengingat banyak pelaku pasar mengambil posisi wait and see," ucap David dalam pesan tertulis, Selasa, 20 September 2016. David memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di angka 4.300 dan resistan di level 5.350 dan cenderung menguat.                       

    Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin berjalan lamban. Namun pembelian mendominasi sehingga IHSG berhasil ditutup naik 54,07 poin (1,03 persen) ke level 5.321,84. Penguatan IHSG hingga berhasil kembali berada di atas 5.300 terutama dipicu imbas sentimen positif dari pasar kawasan Asia dan global. Indeks The MSCI Asia-Pacific di luar Jepang kemarin menguat 1 persen setelah koreksi 2,4 persen pekan lalu.

    Sentimen pasar saham kawasan dan global saat ini juga tertuju pada pertemuan bank sentral Amerika Serikat (FOMC), 20-21 September, dan rapat bank sentral Jepang (BoJ) akhir pekan ini. Pasar meyakini pertemuan FOMC pekan ini belum akan menaikkan bunga FFR, mengingat sejumlah data ekonomi Amerika yang keluar akhir-akhir ini belum menggembirakan.

    Nilai transaksi di pasar reguler kemarin hanya mencapai Rp 3,78 triliun atau jauh di bawah rata-rata harian pekan lalu sebesar Rp 5,56 triliun. "Ini mengindikasikan banyak pemodal menahan diri dan sebaliknya mengambil sikap menanti hasil pertemuan FOMC," ucapnya.

    Sedangkan tadi malam bursa saham global bergerak bervariasi. Indeks saham utama di Uni Eropa Eurostoxx naik 1,3 persen ke angka 18.120,17. Sedangkan di Wall Street, indeks saham utama bergerak fluktuatif tapi ditutup flat. Indeks S&P ditutup flat di angka 2.139,12 setelah sempat menguat 0,7 persen pada sesi awal. Pasar saham global tengah menanti pertemuan dua bank sentral utama dunia, yakni pertemuan FOMC, pada pertengahan pekan ini dan BoJ pada akhir pekan ini.

    Harga minyak mentah tadi malam di Amerika sempat naik 2 persen sebelum ditutup di level US$ 43,30 per barel atau naik 0,63 persen. Pelaku pasar saat ini berspekulasi The Fed belum akan menaikkan tingkat bunganya bulan ini dan kemungkinan besar pada Desember tahun ini.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.