Ekonom: Utang Luar Negeri Swasta Masih Mungkin Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Kacper Pempel

    REUTERS/Kacper Pempel

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Kenta Institute Eric Alexander Sugandi meyakini masih ada kemungkinan utang luar negeri swasta mengalami kenaikan di sisa tahun ini.

    Hal itu bisa terjadi jika terdapat peningkatan aktivitas ekonomi yang membuat perusahaan swasta mulai meningkatan permintaan offshore valas dan naiknya pinjaman ke anak perusahaan.

    “Utang luar negeri swasta bisa bertambah bila pelaku usaha swasta meningkatkan pinjaman valas offshore mereka, misalnya untuk pembelian barang modal atau perluas skala usaha,” ujarnya, Minggu (18 September 2016).

    Utang swasta tercatat sebesar US$165,1 miliar di kuartal II/2016. Posisi utang swasta masih didominasi pinjaman jangka panjang yang turun 3,1%, berbanding terbalik dengan kuartal sebelumnya yang justru mengalami kenaikan 2,1%.

    Utang luar negeri jangka pendek sektor swasta mengalami penurunan lebih kecil sebesar 3,2% di kuartal II/2016, sementara kuartal sebelumnya turun 9%.

    Sebelumnya, Hendy Sulistiowati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI, mengatakan penurunan utang swasta jangka panjang disebabkan oleh pelemahan ekspor.

    Namun, dia meyakini utang swasta akan tumbuh di sisa tahun ini mengingat industri manufaktur dan pengolahan diperkirakan akan melakukan ekspansi.

    "Dari kuartal I/2016, utang swasta itu turun terus. Swasta lebih banyak membayar daripada meminjam. Ada pinjaman afiliasi 33% perannya karena PMA melihat ekspor masih lemah," ucapnya.

    Badan Pusat Statistik meelaporkan secara kumulatif nilai ekspor Januari 2016-Agustus 2016 tercatat US$91,73 miliar atau menurun 10,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai ekspor keseluruhan tahun lalu mencapai US$150,25 miliar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.