Produksi Gula Diprediksi Hanya 2,3 Juta Ton Tahun Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gula pasir. ANTARA/Adhitya Hendra

    Ilustrasi gula pasir. ANTARA/Adhitya Hendra

    TEMPO.CO, Jakarta - Produksi gula konsumsi pada tahun ini dipastikan kembali turun dari produksi 2015. Dari hasil proyeksi produksi atau taksasi terakhir yang melibatkan produsen-produsen gula konsumsi, produksi komoditas itu tahun ini diprediksi maksimal hanya 2,327 juta ton.

    Angka itu lebih rendah 7% dari produksi gula kristal putih (GKP) pada 2015 lalu yang tercatat sebesar 2,497 juta ton dan produksi 2014 yaitu 2,579 juta ton. Penurunan produksi pada tahun ini disebabkan oleh cuaca yang tidak mendukung pertumbuhan tebu dan penurunan luas tanam tebu.

    Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan taksasi produksi gula belum lama ini, Purwono menyampaikan seluruh pabrik telah menyampaikan laporan proyeksi produksinya dan musim giling diprediksi masih berlanjut hingga bulan depan.

    "Semua perusahaan sudah memberikan datanya dan evaluasi produksi nanti di akhir tahun, setelah giling selesar. Tapi produksi 2,327 juta ton itu maksimum, bisa lebih rendah dari itu tapi tidak bisa lebih tinggi lagi, itu angka taksasi tertingginya,” kata Purwono pada Bisnis.com, Rabu (14 September 2016).

    Purwono merincikan, ada dua faktor utama penyebab penurunan produksi gula pada tahun ini. Pertama,penurunan rendemen hingga ke level 7% dari tahun lalu yang rata-rata nasional mencapai 8,28%. Penurunan rendemen diakibatkan cuaca kemarau basah yang terjadi sepanjang tahun ini.

    Rendemen tebu yaitu kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila rendemen tebu hanya 7%, artinya dari 100 kilogram tebu yang digiling, akan diperoleh 7 kilogram gula kristal putih.

    Pada tahun lalu, rendemen tebu memang mengalami kenaikan karena el nino yang terjadi menyebabkan cuaca kering sehingga bagus untuk pertumbuhan tebu. Kalangan produsen gula menyatakan produktivitas tebu tahun ini pun turun menjadi sekitar 66 ton per hektare dari tahun lalu 67,6 ton.

    Kedua, penurunan luas tanam tebu. Purwono menyebut dari data yang dihimpun oleh para produsen gula, total penurunan luas tanam komoditas tebu mencapai 10.000 hektare. Penurunan ini ditengarai disebabkan oleh beberapa daerah yang mengalami kekeringan terlampau parah pada tahun lalu.

    “Selain itu memang ada faktor lain yang menyebabkan penurunan luas tanam tebu yaitu kompetisi dengan komoditi lain dalam pemanfaatan lahan. Harga gabah yang membaik juga menjadi alasan petani membongkar tebunya dan menanam padi,” ujar Purwono.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.