Indonesia Tak Mau Lagi Ada Defisit Perdagangan dengan Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Widodo berkeliling markas Alibaba Group oleh Executive Chairman Alibaba Group, Jack Ma (tengah) di kampus Xixi di Hangzhou, Zhejiang, Cina, 2 September 2016. Kunjungan Jokowi ini sebagai upaya kerja sama dalam memasarkan produk-produk Indonesia, terutama UMKM ke Cina dan pasar global. China Daily/via REUTERS

    Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Widodo berkeliling markas Alibaba Group oleh Executive Chairman Alibaba Group, Jack Ma (tengah) di kampus Xixi di Hangzhou, Zhejiang, Cina, 2 September 2016. Kunjungan Jokowi ini sebagai upaya kerja sama dalam memasarkan produk-produk Indonesia, terutama UMKM ke Cina dan pasar global. China Daily/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan menginginkankan adanya keseimbangan perdagangan antara Cina dan Indonesia, setelah mengalami defisit dalam lima tahun terakhir.

    Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan RI, Arlinda mengatakan apalagi selama ini Cina menjadi negara tujuan ekspor terbesar kedua  produk Indonesia, setelah Amerika Serikat. Dari total ekspor, ujarnya sebanyak 15% produk Indonesia dikirim ke China.

    “Dalam perdagangan, defisit lebih banyak di Indonesia. Surplus di China. Dalam hubungan kerja sama Indonesia dengan China harus ada balance antara dua negara. Itu dituang dalam perjanjian bilateral Indonesia dan China,” kata Arlinda hari ini di Nanning, Cina, Guangxi, Senin (12 September 2016).

    Arlinda menyampaikan kondisi perdagangan tersebut saat bertemu dengan Li Bin, Vice Chairman of the CPPCC (Chinese People’s Political Consultative Conference) Guangxi.

    Pertemuan tersebut dalam rangkaian acara China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan China-ASEAN Business & Invesment Summit (CABIS) ke-13. Dua perhelatan itu diselenggarakan di Nanning, yang merupakan ibukota provinsi Guangxi, China pada 11-14 September 2016.

    CAEXPO dan CABIS diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan Cina dan Kemendag sepuluh negara lainnya di Asia Tenggara. Dalam kesempatan tersebut, Arlinda mengingatkan kembali isi perjanjian CAFTA Free Trade Area. “Jika salah satu negara defisit, negara lain harus membantu perdagangan. Sekarang kami dari Indonesia berusaha keras untuk bisa menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara,” kata Arlinda dalam pertemuan RI-China tersebut.

    Indonesia, tambahnya, mendukung kerja sama dua negara, dan mengharapkan di masa mendatang baik Cina dan Indonesia saling menyokong dalam bentuk investasi, dan perdagangan.

    Dalam kesempatan tersebut, Arlinda menyampaikan sejumlah produk unggulan Indonesia. Yaitu antara lain minyak sawit, 32 jenis kopi, kakao, karet, timah, nikel, batu bara, tembaga, emas yang tersebar di sejumlah pulau di Indonesia.

    Arlinda dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan kepada pemerintah Cina, jika Indonesia saat ini memiliki regulasi yang dibuat dalam rangka menarik investasi asing.

    “Kami menyadari Cina merupakan salah satu partner terbesar Indonesia dalam perdagangan

    EKSPOR MENURUN
    Dalam pertemuan dengan Li Bin, Arlinda memerinci data perdagangan bilateral antara Indonesia dengan China. Total perdagangan RI-China pada semester I/2016 mencapai US$21 miliar atau mengalami penurunan 1,6% dibandingkan periode sama tahun lalu.

    “Karena itu pemerintah Indonesia ingin meningkatkan lebih banyak lagi ekspor ke negara China,” kata Arlinda. Pemerintah Indonesia, ujarnya, akan menyusun strategi untuk mendorong peningkatan ekspor  baik ke China dan negara luar China.

    Dalam pertemuan tersebut, Li Bin, Vice Chairman of the CPPCC (Chinese People’s Political Consultative Conference Guangxi menggarisbawahi terkait informasi komoditas unggulan Indonesia.

    Dalam kesempatan itu pula, Li Bin mengemukakan menjadi momentum baik saat ini untuk menigkatkan kerja sama wisata, di samping perdagangan antara Indonesia dengan Guangxi.

    Sementara itu masyarakat di Guangxi selama ini, ujarnya,  juga telah melakukan perjalan wisata ke Indonesia, khusunya ke Bali. “Banyak tempat wisata populer di Guangxi,” kata Li Bin.

    Sementara itu dalam acara pembukaan CAEXPO dan CABIS ke-13, pemerintah China menyampaikan upaya berkesinambungan untuk meningkatkan kemitraan yang menguntungkan dalam kerja sama antara Tiongkok dengan negara di Asia Tenggara.

    “Sudah terjalin hubungan antara China dan ASEAN selama 25 tahun. Kerja sama yang (memperhatikan) kepentingan kedua belah pihak, dan memperkuat kerja sama untuk meningkatkan pembangunan,” kata Zhang Gaoli, Vice Premier of The State Council of China, saat pembukaan China-ASEAN EXPO (CAEXPO) & China-ASEAN Business & Investment Summit (CABIS) ke-13 di Nanning International Convention & Exhibiton Center (NICEC) di Nanning, Guangxi, Minggu (11 September 2016).

    Dia mengatakan dalam kemitraan selama 25 tahun, tercipta kerja saham yang saling terbuka dan toleransi, serta saling menguntungkan antara China dan ASEAN.
    Dikemukakan selama total perdagangan kedua kawasan terus mengalami peningkatan.

    Jika volume bilateral perdagangan antara China dan ASEAN pada tahun 1991 sebesar US$7,96 miliar, maka pada tahun 2015 meningkat 58 kali lipat menjadi UD$472,06 miliar. Ini dinilai sebagai hasil kerja sama dagang skala besar.

    Dalam kurun waktu kemitraan tersebut, China juga telah melakukan sejumlah investasi di negara ASEAN, seperti proyek kereta api, membangun jembatan, pelabuhan, jalan, pembangkit listrik.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.