Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2017 Turun Jadi 5,2 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah), Direktur Jenderal Kekayaan Negara Sonny Loho (kiri) dan Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro (kanan) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 24 Agustus 2016. Rapat tersebut membahas penerbitan saham terbatas atau rights issue, empat BUMN yakni PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan Tbk serta membahas rencana pembentukan Holding BUMN. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah), Direktur Jenderal Kekayaan Negara Sonny Loho (kiri) dan Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro (kanan) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 24 Agustus 2016. Rapat tersebut membahas penerbitan saham terbatas atau rights issue, empat BUMN yakni PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan Tbk serta membahas rencana pembentukan Holding BUMN. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah daripada yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017.

    Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya 5,3 persen direvisi turun menjadi 5,2 persen. "Saya revisi 0,1 persen," kata Sri dalam rapat kerja bersama Komisi Keuangan DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 1 September 2016. 

    Sri mengatakan revisi itu disebabkan perkiraan yang sedikit berbeda di sejumlah komponen, seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan pembentukan modal tetap bruto. Sedangkan ekspor dan impor diprediksi masih akan bergerak positif. 

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2017 akan berada di level 5,1-5,5 persen. Angka tersebut lebih rendah daripada prediksi awal, yakni 5,2-5,6 persen.

    Agus mengatakan hal itu disebabkan kondisi perekonomian global yang belum pulih. "Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan 3,2 persen pada 2017," ujarnya. 

    Menurut Agus, harga komoditas yang belum stabil atau cenderung masih mengalami penurunan juga menjadi faktor penyebab revisi proyeksi itu. Terlebih, sentimen kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga masih membayangi perekonomian global. 

    Sedangkan kondisi di dalam negeri, menurut Agus, masih terhambat lemahnya permintaan domestik. "Harus ada upaya serius untuk meningkatkannya lagi," ucapnya.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.