Ini Penyumbang Deflasi di Bulan Agustus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, mengatakan deflasi Agustus 2016 sebesar 0,02 persen terutama  disebabkan oleh penurunan harga bahan makanan, transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang cukup tajam.

    "Harga-harga mengalami penurunan setelah libur lebaran, tarif-tarif kembali normal," ujar Sasmito, di kantor BPS, Jakarta, Kamis, 1 September 2016.

    Bahan makanan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,68 persen. Kelompok bahan makanan yang harganya menurun adalah sayur-sayuran, padi-padian, dan umbi-umbian. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan terhadap deflasi adalah daging ayam ras 0,04 persen, wortel 0,03 persen, tomat sayur, jeruk, dan bawang merah masing-masing 0,02 persen, lalu beras, daging sapi, bayam, apel, pepaya, tomat buah, dan bawang putih 0,01 persen.

    "Ini karena permintaan yang mulai menurun, lalu imbas panen raya, sehingga pasokan dari dalam negeri ditambah impor juga baik," kata Sasmito.

    Baca Juga: BI: Akhir Agustus, Deflasi 0,04 Persen

    Sementara itu untuk kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 1,02 persen. Komoditas yang dominan menyumbang deflasi adalah tarif angkutan antar kota 0,11 persen, tarif angkutan udara 0,06 persen, tarif kereta api dan tarif pulsa ponsel masing-masing 0,01 persen.

    Sementara itu, BPS mencatat tingkat inflasi dari Januari hingga Agustus (ytd) mencapai 1,74 persen, dan tingkat inflasi dibandingkan periode tahun sebelumnya (yoy) sebesar 2,79 persen. Komponen inti pada Agustus mengalami inflasi sebesar 0,36 persen, tingkat komponen inti Januari hingga Agustus (ytd) sebesar 2,24 persen, dan dibandingkan periode tahun sebelumnya (yoy) sebesar 3,22 persen.

    Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo pernah mngatakan pada masa mendatang diprediksi  masih terdapat beberapa risiko inflasi yang patut diwaspadai, khususnya terjadinya la nina. "Periode basah sudah mulai terasa. Ini akan berpengaruh pada volatile food dan ini bisa menekan inflasi. Selama ini juga terjadi koreksi harga, terus dibandingkan dengan saat lebaran," katanya seusai rapat Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017 bersama Badan Anggaran di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016.

    Simak: Komisi XI Restui Pemangkasan Anggaran oleh Menteri Keuangan

    Pada 2017, inflasi diperkirakan akan tetap di kisaran 4 plus-minus 1 persen. Menurut Agus, terdapat potensi meningkatnya laju inflasi jika terjadi penyesuaian harga listrik 900 VA. "Kalau dilakukan penyesuaian, akan ada dampak terhadap inflasi. Tapi inflasi tetap dalam range 4 plus-minus 1 persen," tuturnya.

    GHOIDA RAHMAH|ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.