Tekanan Sentimen Global, IHSG Berisiko Terkoreksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pialang saham tengah memantau pergerakan index saham di Bank BNI, Jakarta, 1 Agustus 2016. IHSG bergerak menguat hingga hampir 2 persen, tepatnya 1,95 persen di posisi 5.317,85. Tempo/Tony Hartawan

    Seorang pialang saham tengah memantau pergerakan index saham di Bank BNI, Jakarta, 1 Agustus 2016. IHSG bergerak menguat hingga hampir 2 persen, tepatnya 1,95 persen di posisi 5.317,85. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Dalam perdagangan pada awal September ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak bervariasi. Indeks saham cenderung akan terkoreksi di tengah meningkatnya risiko pasar saham global dan tekanan di sejumlah harga komoditas, seperti harga minyak mentah.

    "IHSG diperkirakan bergerak dengan support di angka 5.330 dengan resistan di level 5.410 cenderung melemah," ujar analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, dalam pesan tertulis, Kamis, 1 September 2016.               

    Dalam bursa global, tadi malam Wall Street menutup Agustus dengan koreksi. Indeks DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 0,3 persen dan 0,2 persen di level 18.400,88 dan 2.170,95. Sepanjang Agustus lalu, indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,17 persen dan 0,12 persen setelah Juli sebelumnya masing-masing menguat 2,8 persen dan 3,6 persen.

    "Koreksi Wall Street tadi malam terutama dipicu koreksi di saham energi setelah harga minyak mentah kembali melemah," ujar David. Adapun harga minyak mentah tadi malam di AS terkoreksi 3,2 persen di level US$ 44,86 per barel. Namun, sepanjang Agustus lalu, harga minyak mentah di Amerika Serikat rebound 8,41 persen, setelah tertekan pada Juli sebelumnya hingga 14,5 persen.

    Menurut David, memasuki September, risiko pasar saham global cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kemungkinan The Fed menaikkan tingkat bunganya dalam pertemuan 20-21 September ini.

    Di sisi lain, dolar Amerika Serikat kembali menguat tadi malam menyusul sikap pelaku pasar menanti data tenaga kerja Amerika yang akan keluar akhir pekan ini di tengah spekulasi kenaikan tingkat bunga pada September ini.

    Dalam perdagangan kemarin, IHSG berhasil menguat setelah dua sesi perdagangan sebelumnya dilanda koreksi. IHSG dalam perdagangan akhir Agustus kemarin ditutup di angka 5.386,082 atau naik 23,766 poin (0,44 persen). Rebound sejumlah saham unggulan, seperti Astra dan Telkom, serta saham sektor batu bara berhasil mengangkat posisi IHSG mendekati level 5.400 kembali.

    Pasar menutup Agustus dengan kenaikan bulanan IHSG 3,3 persen melanjutkan penguatan Juli yang hampir 4 persen. Kenaikan IHSG sepanjang Agustus menandai kenaikan indeks untuk tiga bulan berturut-turut. 

    Sedangkan rupiah sepanjang Agustus terhadap dolar Amerika melemah 1,6 persen setelah Juli menguat 0,65 persen ditutup di angka 13.300 pada akhir Agustus. "Hal ini mengindikasikan kekhawatiran kenaikan tingkat bunga FFR menjelang pertemuan The Fed pada September," ujar David.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.