Sentimen Kenaikan Suku Bunga The Fed, IHSG Rawan Melemah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Maret 2016.  IHSG ditutup flat di level yang hampir sama dengan kemarin yakni 4.885,71 naik 0,02 poin atau 0%. TEMPO/Tony Hartawan

    Pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Maret 2016. IHSG ditutup flat di level yang hampir sama dengan kemarin yakni 4.885,71 naik 0,02 poin atau 0%. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada perdagangan awal pekan terakhir Agustus hari ini, IHSG diperkirakan rawan koreksi lanjutan. Analis Ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, pelemahan tersebut menyusul meningkatnya kekhawatiran pasar akan kenaikan bunga di Amerika Serikat yang dapat memicu pembalikan arus dana asing, dan menekan kembali rupiah.

    "IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 5410 dengan resisten di 5450," ujar David Sutyanto dalam pesan tertulisnya, Senin, 29 Agustus 2016.

    IHSG akhir pekan lalu umumnya bergerak d teritori negatif dalam rentang konsolidasi. Penguatan IHSG akhir pekan lalu tertahan di level tertingginya 5.456 dan tutup koreksi 15,28 poin (0,28 persen) di 5438,831.

    Pelemahan tersebut, kata David karena pelaku pasar cenderung wait and see di tengah meningkatnya kekhawatiran kenaikan tingkat bunga AS menjelang akhir tahun ini. Sedangkan dari domestik, sentimen mencuat karena adanya kekhawatiran meningkatnya risiko fiskal tahun ini, dan pemodal melakukan valuasi ulang terkait kenaikan harga saham yang relatif tinggi dengan pencapaian kinerjanya.

    Meningkatnya risiko fiskal tercermin dari langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali memangkas belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) di APBN-P 2016 hingga Rp 137,65 triliun menyusul ancaman tidak tercapainya target penerimaan pajak (shortfall) hingga Rp 219 triliun."Langkah pemangkasan ini mencerminkan ketatnya likuiditas fiskal pemerintah, sehingga sulit diharapkan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi tahun ini," tutur David.

    Selama sepekan terakhir, IHSG bergerak konsolidasi namun berhasil menguat terbatas 0,42 persen, melanjutkan penguatan pekan sebelumnya 0,72 persen. Penguatan IHSG sepekan kemarin bersifat anomali dengan pergerakan di pasar saham global dan kawasan Asia yang umumnya terkoreksi menyusul meningkatnya risiko pasar terkait rencana kenaikan tingkat bunga di AS akhir tahun ini.

    Di pasar global, akhir pekan lalu Wall Street ditutup terkoreksi. Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,29 persen dan 0,16 persen di 18395,40 dan 2169,04. Selama sepekan, indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,85%l persen dan 0,68 persen.

    Sentimen pasar terutama digerakkan oleh pernyataan Yellen di pertemuan pejabat bank sentral di Jackson Hole Wyoming Jumat lalu yang mengindikasikan kenaikan tingkat bunga FFR di paruh kedua tahun ini. Indikasi itu semakin terbuka menyusul sejumlah pencapaian indikator ekonomi mendekati target The Fed.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?