Angkasa Pura II Cetak Laba Rp1,11 Triliun Paruh Pertama 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Angkasa Pura II. Wikipedia.org

    Logo Angkasa Pura II. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta -Perusahaan plat merah yang baru-baru ini merilis obligasi senilai Rp2 triliun, PT Angkasa Pura II (Persero) membukukan laba senilai Rp1,11 triliun sepanjang paruh pertama 2016.

    Berdasarkan laporan keuangan yang diterima Bisnis pada Senin, 22 Agustus 2016, perusahaan plat merah yang tengah berkonsentrasi memaksimalkan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ini mencatatkan pendapatan usaha yakni senilai Rp2,95 triliun dan laba usaha senilai Rp1,03 triliun pada Juni 2016.

    Direktur Keuangan Angkasa Pura II Andra Y.Agussalam sebelumnya optimistis akan perbaikan pada paruh kedua tahun ini. Dia memproyeksikan raihan pendapatan bisa menembus Rp7,5 triliun hingga akhir 2016.

    Andra memaparkan pendapatan perseroan akan dikontribusikan dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang akan segera beroperasi. Total aset Angkasa Pura II hingga Juni 2016 mencapai Rp24,37 triliun. Adapun komposisi aset terdiri dari liabilitas Rp7,24 triliun dan ekuitas Rp17,12 triliun.

    Meski baru merilis obligasi senilai Rp2 triliun untuk pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pihaknya tengah mengkaji rencana penerbitan surat utang kembali, akan tetapi dengan denominasi valuta asing atau global bond.

    Tak tanggung-tanggung, perusahaan yang mengelola 13 bandar udara berencana menerbitkan obligasi senilai Rp6 triliun. Hasil penerbitan global bond itu direncanakan bakal dipakai untuk kegiatan pengembangan bandara yang dikelola oleh perseroan seperti bagian runway dan sebagainya.

    Sepanjang 2016, Angkasa Pura II mengalokasikan belanja modal senilai Rp11 triliun atau relatif tidak jauh berbeda dibandingkan dengan anggaran Rp10 triliun pada tahun lalu. Berdasarkan paparan manajemen perusahaan,  hingga 5 tahun berikutnya, Angkasa Pura II bakal menganggarkan belanja modal sekitar Rp31 triliun.

    Selain meraih dana segar dari penerbitan surat utang, perseroan pernah memperoleh pinjaman dari PT Indonesia Infrastructure Finance senilai Rp4 triliun, pinjaman dari bank BUMN Rp2,1 triliun dan sebagainya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.