Sri Mulyani: Lewat Sukuk, Masyarakat Bisa Danai Defisit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam acara #17anTempo yang bertema Merayakan Chairil Anwar, di gedung Tempo, Jakarta, 15 Agustus 2016. Tempo Channel

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam acara #17anTempo yang bertema Merayakan Chairil Anwar, di gedung Tempo, Jakarta, 15 Agustus 2016. Tempo Channel

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sukuk tabungan dengan seri ST-001 diterbitkan dalam rangka demokratisasi obligasi pemerintah. Menurut dia, penerbitan sukuk tabungan ini juga untuk menciptakan inklusi keuangan di masyarakat.

    "Saya ingin masyarakat punya kesempatan dan berperan dalam mendanai defisit dari fiskal," ucap Menteri Sri Mulyani dalam peluncuran sukuk tabungan dengan seri ST-001 tersebut di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Agustus 2016.

    Sri Mulyani berujar, penerbitan sukuk tabungan ini juga akan mendorong pendalaman dari para pemilik obligasi pemerintah. "Makin luas dan makin banyak yang memiliki (obligasi) jadi lebih stabil. Maka kami upaya terus dengan diversifikasi instrumen untuk menjangkau masyarakat."

    Sri meyakinkan masyarakat bahwa salah satu instrumen investasi yang baru ini aman karena dijamin negara. "Makanya kami buat struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang sehat. Kalau saya bilang negara pasti bisa bayar tapi APBN tidak sehat, masyarakat pasti mempertanyakan," tuturnya.

    Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan, menambahkan, sukuk tabungan ini tidak memiliki risiko gagal bayar karena pembayaran pokok dan imbalannya dijamin negara. Namun sukuk ini memiliki risiko likuiditas karena tidak dapat diperdagangkan.

    Hari ini Kementerian Keuangan meluncurkan sukuk tabungan dengan seri ST-001 yang berdasarkan prinsip syariah. Imbalan sukuk tabungan ini bersifat tetap, yakni sebesar 6,9 persen per tahun yang dibayar pada tanggal 7 setiap bulannya. Namun sukuk tabungan ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

    Selain itu, kata Robert, sukuk tabungan ini sangat terjangkau oleh masyarakat karena jumlah minimum pembelian sebesar Rp 2 juta. Sedangkan jumlah maksimum pembelian sukuk tabungan ini sebesar Rp 5 miliar.

    Menurut Robert, dengan minimum pembelian hanya Rp 2 juta tersebut, sukuk tabungan ini dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk berinvestasi. Selain itu, tutur dia, sukuk tabungan menjadi salah satu sarana inklusi keuangan yang ingin dicapai pemerintah.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI

    Baca Juga
    Ahok: Saya Minta Djarot, Bukan Minta PDIP Gabung
    Begini Kisah Penyadap Nira yang Nyaris Ditabrak Pesawat



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.