Garuda Indonesia Incar Pasar New York dan Los Angeles

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu  Hidayat

    Pesawat Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia, membidik pasar New York dan Los Angeles sebagai destinasi rute penerbangan ke Amerika Serikat setelah Indonesia dinyatakan lolos kategori 1 standar keselamatan Federal Aviation Administration (FAA).

    Hingga berubah menjadi kategori 1, Indonesia masih dalam kategori 2 seturut standar FAA. Imbasnya sangat luas dan sistemik, di antaranya tidak boleh mengarungi angkasa Amerika Serikat hingga delapan tahun terakhir.

    Dengan label kategori 1 FAA maka Indonesia setara dengan Singapura, Filipina, Brunei Darussalam serta Malaysia untuk negara-negara ASEAN. Juru Bicara PT Garuda Indonesia, Benny S Butarbutar, usai peninjauan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di Tangerang, Senin (15 Agustus 2016), mengatakan, akan ada dua hingga tiga penerbangan dalam seminggu untuk kedua rute internasional lintas benua-samudera itu.

    "Tidak banyak-banyak dulu, seminggu dua hingga tiga kali agar konsisten," katanya. Dia mengungkapkan langkah pertama adalah untuk memperoleh kepercayaan pasar terlebih dahulu.

    Dia menuturkan, New York di pantai timur Amerika Serikat dipilih karena sebagai pusat bisnis dunia yang digelari Big Apple, sementara Los Angeles di pantai barat Amerika Serikat juga memiliki pasar tersendiri.

    Saat ini, lanjut dia, PT Garuda Indonesia belum bisa menerbangkan secara langsung ke Amerika Serikat dan rencananya akan menjadikan Bandara Internasional Narita, di Tokyo, Jepang sebagai poros (hub). "Kalau Haneda lebih banyak penerbangan domestik, jadi kami pilih Narita," katanya.

    Namun, dia tidak menampik ke depannya akan melayani penerbangan langsung karena lebih disukai pemakai jasa penerbangan, seperti Jakarta-Amsterdam dan London-Jakarta.  Butarbutar mengatakan, pesawat yang akan digunakan, yaitu pesawat berbadan besar sekelas Boeing B-777.

    "Kita juga datangkan pesawat baru karena dengan teknologi yang dimiliki, aerodinamisnya dan lainnya bisa menghemat 10-15 persen avtur," katanya. Pasalnya, lanjut dia, dari struktur biaya operasional, bahan bakar menempati porsi 40 persen.  Dia juga menargetkan tingkat keterisian penumpang (load factor) sampai 75 persen agar bisa menopang pendapatan. "Kalau hanya 60 persen, belum bisa, idelanya 75 persen," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).