Renovasi Sydney Opera House Telan Dana US$ 154 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Instalasi cahaya lampu hiasi gedung Opera House Sydney saat berlangsungnya Festival Vivid Sydney di Sydney, Australia, 27 Mei 2016. (Mark Metcalfe/Getty Images)

    Instalasi cahaya lampu hiasi gedung Opera House Sydney saat berlangsungnya Festival Vivid Sydney di Sydney, Australia, 27 Mei 2016. (Mark Metcalfe/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu ikon wisata terkenal Australia yang juga dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO, Sydney Opera House, akan menjalani renovasi besar-besaran dengan biaya sekitar US$ 154 juta.

    Menurut Deloitte Access Economic pada 2013 Opera House dikunjungi oleh sekitar 8 juta orang pertahun dan menghasilkan pundi-pundi sebesar A$ 775 juta per tahun bagi negara bagian New South Wales. Namun, tempat ini sering mendapat kritik karena instrumen akustiknya.

    Renovasi yang akan dimulai tahun depan dan diperkirakan selesai pada 2020, akan fokus memperbaiki instrumen akustik dan akses serta merubah ruang-ruang tidak terpakai menjadi pusat belajar kreatif yang ramah keluarga.

    “Sydney Opera House adalah simbol Australia yang modern. Sudah menjadi tugas kami sebagai pemelihara gedung untuk memelihara tempat yang luar biasa ini dan memperbaharuinya demi seluruh warga Australia” ujar Troy Grant, wakil wakil perdana menteri New South Wales seperti dikutip dari Reuters, Kamis (11 Agustus 2016).

    Sejak pembukaannya, struktur gedung tersebut tidak pernah bisa meredakan kekecewaan akan instrumen akustiknya.

    Pada sebuah survei di 2011, para penonton dan pengkritik dalam majalah musik Australia Limelight menilai bahwa teater Opera memiliki akustik terjelek diantara 20 tempat sejenis lain di dunia.

    Managing Director Symphony Orchestra mengatakan, renovasi ini diharapkandapat mengubah semuanya. “Untuk pertama kalinya Gedung Konser akan mempertunjukkan ambisi sejati dari pencipta aslinya,” katanya dalam sebuah pernyataan.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.